Wisata Kuliner Plus Sejarah di Karawang – Pepes Jambal Walahar

46
1932
pepes jambal haji dirja

bendung walahar karawang

 

Makanan enak tapi murah meriah harus dicari dan dikejar.  Itu prinsip buat aku. Tukang makan banget deh, he.. he… Apalagi kalau dibilang lokasinya ada di tempat bersejarah.  Jadi dobel dorongan buat  datang ke tempat tersebut. Sasarannya adalah rumah makan  gaya Sunda dengan pepes jambal di sekitar Bendung Walahar Karawang. Cocok kan wisata kuliner sekaligus wisata sejarah di rumah makan spesialisasi pepes RM H. Dirja.

Siapa yang suka pepes? Pepes salah satu jenis  makanan khas Indonesia. Lebih tepatnya sih makanan sunda. Daerah lain pun juga punya makanan sejenis pepes misalnya di Bengkulu namanya pendaptentu dengan bumbu berbeda.

Nah, suatu waktu  saat  blogwalking dulu itu  ketemu dengan  sebuah artikel jalan-jalan.  Dari tulisan ini dapat cerita bahwa  di Karawang  ada rumah makan terkenal  yang menyediakan aneka pepes yang  juara nikmatnya.  Dan bonusnya yaitu ada pula bendungan tua peninggalan Belanda yang masih sangat bagus dan masih berfungsi. Ini yang membuatku terus menggugah suami untuk datang ke Karawang Timur.

Jadi, lama sesudahnya barulah kami  ada kesempatan meluncur ke Karawang. Itu terjadi di suatu pagi hari Senin setelah mengantar anak-anak ke sekolah. Saat itu aku dan suami  ambil cuti bersamaan (pacaran pagi-pagi wk.. wk..).

Melihat angka kurang lebih 60 kilometer yang harus ditempuh dari rumah kami di satelit kota Jakarta  ke Karawang agak bikin berpikir alangkah jauhnya.  Tapi pengalaman dan usaha mencapainya itu akan sangat sebanding bila makanannya enak. Padahal sih dalam hati juga menyiapkan diri agar tak kecewa bila yang didapat tak sesuai harapan.

Rute jalan ke Bendungan Walahar

Arus lalu lintas dari ibukota ke arah  Karawang Timur di Senin pagi itu di luar dugaan sangatlah lancar. Perjalanan terasa singkat.  Kok tiba-tiba saja sudah keluar dari tol. Dari pintu tol lurus saja  menuju ke arah Klari. Petunjuk jalan lengkap banget. Ikuti petunjuk berbelok ke kanan ke Walahar dan danau Cipule, kalau belok ke kiri adalah jalan ke arah Candi Jiwa dan Blandongan.  Lalu beberapa ratus meter sesudahnya belok ke kanan lagi sampai  menyusuri pinggir sungai. Sempat sih  tersasar dan mentok di sebuah pabrik. Rupanya ada perbaikan jalan, pantaslah nggak ketemu jalannya. Setelah berputar kami kembali ke jalan yang benar.

Inilah sungai Citarum, tak terlalu lebar sungainya. Tepi sungai rapi dibeton, lalu terlihat pintu air kecil bergaya kuno. Eh, tapi bukan itu bendungannya, berbeda dengan di foto.  Bangunan pintu air itu  membuat seolah-olah sedang berada di Eropa. Kami terus menyusuri jalan dan melihat sebuah pintu air lagi. Dan akhirnya jalan susur sungai berakhir dan harus berbelok melintas jembatan. Jembatannya kecil jadi harus antri. Di ujung jalan itu tampak sosok gagah bangunan utama Bendungan Walahar.

Mobil diparkir dulu dan asyik ambil foto dari sisi ini sambil menunggu jam makan siang.

Rumah makan H. Dirja ada di ujung lain dari jembatan bendungan.  Ke rumah makan itu  harus melewati bendungan yang hanya cukup untuk satu mobil. Makanya harus sabar bergantian. Dipandu seorang anak muda melewati tiang-tiang yang sangat sempit, untungnya mobil bisa melalui walau harus melipat kaca spion. Pas-pasan sekali. Deg-degan deh.

Rumah makan H. Dirja yang terkenal dengan aneka pepesnya ini  kabarnya sudah sangat lama berdiri. Teman bloger mbak Inna Riana bilang di masa kecil 20an tahun lalu sering makan di sini.  Pasti  para pecinta kuliner pun tak merasa asing lagi dengannya. Liputan kuliner di telivisi sudah sering mengulasnya. Salah satu ahli kuliner Indonesia Bapak Bondan Winarno  mak nyus pun sudah pernah jajal makan di sini.

Areal rumah makan cukup luas  cukup untuk beberapa saung dan parkir. Kebun yang mengelilingi sederhana saja tanpa tatanan istimewa.  Suasana rumah makan masih sepi, kami pengunjung pertama yang datang. Jika hari libur atau akhir pekan kabarnya tempat ini ramai sekali.

Masuk ke dalam bangunan terbuka langsung berhadapan dengan meja panjang yang di atasnya diletakkan nampan-nampan kecil berisi bungkusan pepes. Pepes jambal baru matang dan ditata di nampan yang masih kosong. Pepes yang tersedia bermacam-macam jenis. Ada pepes jamur, tahu, oncom, teri, peda, ayam,  ati ampela dan jambal. Silahkan pilih sendiri sesuai selera, petugas akan membantu membawakan ke meja kita.

Inilah pilihan kami di antara  sekian banyak menu yang juga menyediakan ayam dan ikan gurame. Pilihan  yang sangat sederhana untuk makan siang dua orang sepuh.

pepes jambal haji dirja

Kami berdua pesan tiga jenis pepes yaitu pepes tahu, jamur dan jambal. Juga karedok, sayur asem dan tempe goreng. Nasinya dibungkus daun pisang dan diikat karet he.. he.. biar praktis ya. Nasi jadi wangi aroma daun pisang.

pepes jambal walahar

Orang bilang sambal itu yang paling pegang peranan melariskan rumah makan. Memang sambalnya rumah makan H. Dirja  mantap banget,  pedasnya pas. Ambil secolek sambal dengan lalapan dan tempe gorengnya. Langsung deh kesan pertama rasanya tak hanya marlakiak pinggol niba (bhs Batak : pedasnya sampai ke kuping) tapi semua pori-pori di ubun-ubun itu serasa terbuka. Huh hah deh…

Pepes jambalnya yang terkenal itu memang nikmat.  Pepes jambal terasa sedikit berminyak alami  dari daging ikannya. Campuran bumbu yang  dihaluskan sangat medok. Kuduga bumbu halus itu paduan aneka rimpang, kemiri dan duo bawang dan cabe merah,   ditambah bumbu iris. Sayur asam  dan karedoknya pun pas. Pepes Jamur  dahsyat, bumbunya  mantap hampir mirip dengan rasa pepes jambal dan ada  aroma kayu bakar. Isinya pun banyak. Rasanya unik.

Pokoknya puas makan di sini. Tak heran walau lokasi rumah makan ini jauh dari pusat keramaian ia tetap mampu memikat hati dan lidah penggemar makanan lezat.

bendungan Walahar Karawang

Jalan perlintasan di tengah bangunan dengan  bentuk lengkung  atap dan tiang-tiang langsing,  klasik .

 

Sekarang cerita dari sisi bangunannya yuk.

Karawang adalah daerah lumbung beras. Maksudnya produksi beras di sini cukup tinggi.  Sejak dulu penduduknya mengandalkan persawahan sebagai mata pencarian utama. Mungkin memang tanahnya cocok buat bersawah, apalagi wilayahnya dilewati oleh sungai berair deras.

Bendungan Walahar letaknya  di  desa Walahar, Klari, Karawang, Jawa Barat. Dari plat nama di atas pintu masuk bendungan  tertera sedikit informasi.  Bendungan ini mulai dipakai 30 Nopember 1925. Kegunaannya adalah untuk mengairi sawah  seluas 87,396 hektar. Sungai yang dibendung adalah sungai Citarum. Kini bendungan adalah aset dari Perum Jasa Tirta II. Perusahaan BUMN ini  bertugas  menyelenggarakan pemanfaatan umum atas air dan sumber-sumber air dan mengelola  daerah aliran sungai (DAS).

Coba mencari data lebih lanjut, bendungan mulai dibangun tahun 1923 dengan di bawah pengawasan ahli dari Belanda bernama C. Swaan Koopman.  Bendungan Walahar membentuk waduk seluas ±15 hektar.

Terpampang di hadapan mata adalah sebuah bangunan kokoh berwarna  kekuningan dengan tiang dan pagar dicat hijau. Bangunan bendungan terdiri dari 3 bagian. Bagian bawah adalah  pintu penahan air yang berjumlah 5 pintu. Bagian kedua atau tengah  adalah jembatan seluas 3 meter yang melintang di atas sungai Citarum. Di bagian ini di sisi atapnya berbentuk lengkung, ditambab tiang-tiang langsing menciptakan kecantikan tersendiri. Bagian ketiga merupakan ruang mesin untuk mengatur sistem bendungan.

Bendungan Walahar Karawang
Bendungan Walahar Karawang dilihat dari RM H. Dirja

Berdiri di pinggir jembatan di antara lalu lalang kendaraan membuat gamang, he.. he.. Ini gara-gara pengen mengambil foto pintu air lengkap dengan pengukur ketinggian muka air. Derasnya air mengalir melalui pintu air di bawah pun buat aku kekap erat smartphone, takut nyemplung. Oh ya, ada juga plang keterangan renovasi. Misalnya pintu 4 pernah direnovasi tahun 2004.

Salut banget deh dengan kekuatan konstruksinya. Bayangkan saja puluhan kendaraan besar kecil yang lewat di situ berpuluh tahun pasti beban dan getarannya tak sedikit.

Selain sebagai pengatur debit air sungai Citarum dan mengairi areal persawahan, bendungan juga untuk menahan air berlimpah di musim hujan. Juga bisa berfungsi sebagai sarana rekreasi, memancing dan wisata air lainnya.

 

46 COMMENTS

  1. Kuliner ini memang terkenal banget ya Mbak. Bolak balik baca tentang pepes walahar, yang ada cuman bisa nelan ludah haha. Ngiler pengen makan pepes jamur, jambal dan peda. Apalagi makannya pakai sambel dan sayur asem. Sluruupphh. Untung di sini ga ada jambal, kalo nggak bisa tiap hari aku makan jambal mulu haha

    • nggak doyan sambal ya..?
      supaya nggak kepedasan colek sedikit aja sambalnya, dijamin makannya jadi lahap

  2. Iya terkenal banget warung makan ini Mbak. Memang makanannya dari fotonya pun sudah tampak sangat menggiurkan. Sudah beberapa artikel saya baca soal warung makan ini dan semua orang puas dengan rasa makanannya. Mudah-mudahan suatu hari nanti bisa main dan makan di sana, hehe.
    Dan, bendungannya! Saya masih kagum banget dengan di tengahnya bisa ada jalan yang dapat dilalui. Artinya kan bendungan ini memang megah banget ya. Jelaslah kalau sungainya besar dan dalam seperti itu, apalagi sawah yang dilayani oleh bendungan ini memang luas banget. Masihkah ada plakat di bendungan ini yang dari tahun 1923 itu, Mbak? Kalau di Pintu Air Manggarai kan masih ada, apa di sini ada plakat peresmian atau semacamnya?

    • plang nama lamanya nggak ada kayaknya
      yang di atas pintu utama itu udah buatan baru keliatannya walau masih pakai ejaan lama untuk Tjitarum

      eh gara2 komen Gara ini aku kepengen liat Pintu Air Manggarai, boleh didatangi umum?

  3. Teramat sering baca & dengar cerita pepes walahar tapi belum kesampean kesitu ???? Dari foto2 Mbak Monda, nikmat sekali. Btw, pasangan sepuh, ya gak sepuh juga kali, Mbak. Hehe.

    • ha.. ha.. iya pasangan sepuh .. yang pengen makan enak tapi tetap harus pilih2 makanan yang relatif sehat

    • Jiah.., aneh bagaimana? setidaknya udah pernah coba
      sering latihan buat pepes tahu biar makin jago

    • ah iya kendalanya daun pisang susah ya..
      kalau dikukus aja nggak pakai daun rasanya kurang mantap ya Nel

  4. Mbaaak…jadi kabita dengan pepes jambal dan tahunya!
    Saya kurang suka jamur. Tapi itu makanan favorit Risa.
    Jadi pilihan pepes mbak Monda disini, adalah gabungan dua selera. Saya dan Risa.
    Hehehe…
    Maaf ya mbak, baru datang lagi sekarang…mood nge-blognya masih belum stabil 🙂

    • mbak nggak apa2 nggak ke sini
      tentu ngeblog harus lihat kesempatan lowong sehari2..
      akupun baru bisa agak senggang blogwalking kok

      jadi nggak suka jamur ya mbak ?
      ok keep in mind,
      kalau makanan yang nggak aku suka apa ya…, hampir nggak ada kayaknya

  5. Ya ampuuuun… Jadi pengin makan pepes nih. Pepes itu sehat ya, Mbak. Ga perlu digoreng pakai minyak. Btw, namanya kalau di Kalsel pepes itu paisan. Misal pepes ikan patin jadi paisan patin 😀
    Saya jadi kangen pepes bikinan mama saya 😀

  6. Aduuuh….saya kemeceeeerrr….
    Saya suka pepes mbak Monda.. aneka pepes asal ga terlalu pedes pasti jadi pilihan saya… Hm, jadi pengen ke sini juga ah, kapan2… ngerasain maknyuusnya pepes-pepes yg di sini.. Trims rekomennya mbak…

  7. BunMoooon, dari terminal Klari itu kan ada pertigaan lampu merah ya, kalo kanan dan luruuuus terus smp ketemu flyover, rumah Orin ada di sebelah kanan jalan lhooooo hihihihi. Dan meskipun udah jadi orang Karawang, blom sempat mencicipi kuliner menggiurkan ini, harus segera ngajakin AM ke sini nih

  8. Assalaamu’alaikum wr.wb, mbak Monda….

    Makanannya banyak seperti bukan untuk dua orang. Cukup khasiatnya mbak kerana semua keperluan makan badan itu cukup. Sayur asamnya kedengaran enak ya mbak. Pasti lazat kerana saya suka kalau makan yang masam-masam. Sebutan jambal di sini (Sarawak) seperti “pais” untuk panggilan tempatannya. Memang lazat terutama dimakan ketika masih hangat.

    Salam manis dari Sarikei, Sarawak. 🙂

    • wa alaikum salam wr wb

      ha.. ha.. ketahuan deh kami makannya banyak, tapi ini porsi kecil lho kak..
      sebutan pais sama dengan di daerah Sumatera dan Kalimantan kak

  9. Kemaren pas ke Kerawang nga keburu mampir ke warung pepes dan bendungan ini. Kelamaan nyasar nya hehehehe. Tapi lihat tampilan foto sudah kebayang dech nikmatnya. Semoga bisa mampir kesini dech, hehehe.. soalnya ini rumah makan ini cukup terkenal.

    Senang dech baca kakak ama suami masih meluangkan waktu berkencan berdua.

    • musti diulang ke sini lagi Lin, pakai tol aja dijamin nggak nyasar
      waktu itu ke candi Blandongan, kalian pakai jalan biasa ya,
      tapi kalu dari candi ke sini keliatannya cukup jauh deh,

  10. aih ada nama saya disebut 😀

    iya, tempat makan ini sudah terkenal dari jaman saya kecil. dulu bangunannya cuma yang bagian depan aja dan masih gubug. sekarang sudah berkembang luas sampai bikin saung di belakang.

    rumah makan saingannya juga masih ada. lupa namanya. tempatnya sebelum bendungan walahar n tepat di pinggir jalan. tapi orang2 (termasuk saya) teuteup lebih suka pepes jambal yg di pinggir bendungan 🙂

    • oh iya liat mbak rumah makan itu, pas antri masu masuk jembatan kami berhenti persis di depannya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.