Tabula Rasa, Rasa Pulang Kampung

45
250

Tabula rasa (dari bahasa Latin kertas kosong) merujuk pada pandangan epistemologi bahwa seorang manusia lahir tanpa isi mental bawaan, dengan kata lain “kosong”, dan seluruh sumber pengetahuan diperoleh sedikit demi sedikit melalui pengalaman dan persepsi alat inderanya terhadap dunia di luar dirinya.” sumber : Wikipedia

Seperti itulah isi film Tabula Rasa ini yang mengisahkan pengalaman Hans yang belum pernah makan masakan Padang sampai akhirnya bisa menjadi juru masak di rumah makan Padang.

Tentu tak sesederhana itu jalan ceritanya. Ada kisah anak muda yang hampir putus asa karena cita-citanya kandas di tengah jalan. Hans bercita-cita jadi atlit sepak bola hebat.  Impiannya  tampak semakin dekat  mana kala dia mendapat undangan ke Jakarta dari seorang pencari bakat pemain sepak bola. Setelah ditinggalkannya Serui,   pulau di utara Papua,  apa daya  di Jakarta kakinya patah dan harus terusir dari klub sepak bola. Ia hidup  menggelandang sampai akhirnya ditemukan dalam keadaan terkapar  oleh seorang ibu yang pulang belanja dari pasar.

Dibawalah ia ke rumah makan milik si Amak dan diberi makan. Hans tak mau makan cuma-cuma dan memaksa harus cuci piring. Kekerasan hati Hans inilah mungkin yang membuat Amak  jadi menaruh perhatian walau sempat pula mereka berbantahan karena Hans minta upah, Amak tak mau memberi karena tak pernah menjanjikan upah. Amak merasa cukup dengan membeinya makan saja.

Film ini  berkisah di seputar pasar dan rumah makan kecil milik Amak di jalan raya Cileungsi – Jonggol dan rel kereta api.  Kenyataannya tak ada jalur kereta api di wilayah itu, , atau aku salah ya ?  Apakah Amak belanja beras  di wilayah Pasar Induk Cipinang yang jauhnya berkilo-kilometer dari  Cileungsi ? Tapi bukankah di Cipinang tak ada lagi becak ? Karena Amak pulang belanja naik becak lho. He..he.. whatever lah…, logika sempitku  tak mengganggu jalan cerita kok.

Aku mengamati detail adegan-adegan memasak karena di media disebutkan film ini dapat masukan  dari praktisi kuliner Minang terkenal untuk adegan di dapur. Ah.. adegan memasak rendang itu semua seperti yang kualami di masa kecil. Cara amak mengajarkan Hans menggiling cabai dengan anak  batu gilingan bulat yang khas Sumatera persis seperti ibuku mengajarkan.  Cara memeras santan dengan alat penjepit dari kayu mirip dengan alat yang pernah kuceritakan di kisah Santan Kelapa Untuk Rendang. Cara menghidupkan api dengan peniup dari buluh bambu juga dipakai di kampungku. Tak lupa adegan mengkacau (mengaduk) rendang yang harus sabar dan perlahan-lahan supaya rendang tidak hancur atau menggumpal mengingatkan keluh kesah kami bila mendapat giliran tugas itu.

Di sepanjang film ini memakai bahasa Minang dan logat Papua.Kedua budaya  dan bahasa ini dekat di hatiku, aku serasa pulang kampung, apalagi dulu aku pernah bisa berbicara dengan logat  Papua, seperti pernah kuceritakan di So Lama Tara Bakudapa.

Film ini berjalan lancar menceritakan persaingan dua rumah makan Padang, ada konflik, penyesalan  dan akhirnya  perdamaian.   Logat aktor-aktornya  mulus mungkin ada yang memang asli  fasih berbahasa daerahnya. Film terasa begitu wajarnya. sehingga tak terasa  sudah berakhir. Aku suka film ini yang mengangkat kesederhanaan, budaya daerah dan kerukunan  masyarakat yang berbeda suku, agama dan ras. Aku suka adegan ketika amak belajar makan masakan Hans, papeda dengan ikan kuah kuning, makan papeda itu langsung ditelan  jangan dikunyah he..he… Juga adegan ketika Hans  menceritakan anekdot babi dan kasih singkatan baru MOP – menipu orang Padang. Hans juga mulai belajar bahasa Minang walau dengan dialek Papua “saketek-saketek tho”

Pokoknya film ini kurekomendasikan banget deh. (Sayangnya tadi teater sepi, yang nonton cuma dua puluhan orang).

45 COMMENTS

  1. barusan baca review yang lain dan bikin aga bingung Mba Monda, setelah baca ini jadi penasaran. 😀
    Makasih Mba.. 🙂

  2. Amatan detail Mbak Monda luar biasa dan tetap mendudukkan serta menikmati film sesuai alurnya dengan kenangan rendangnya. Tabula rasa….saat menera kembali rasa.
    Terima kasih mbak berbagi cerita film. Selamat berakhir pekan

    • untungnya mbak bahasa Minang di film ini bukan yg ngomongnya cepat, jadi bisa ngertilah .., serasa di Bukittinggi he..he…dan suka banget juga suasana dapurnya itu sih.., serasa memang ada dalam kehidupan harian kita

    • tadinya juga kupikir dari bahasa Indonesia, setelah googling ada banyak karya lain dalam dan luar negri yg pakai judul Tabula Rasa

    • waah sayang aku nggak lihat..,
      semoga makin banyak deh produser film seperti mereka, yg mau buat film bagus seperti ini..

  3. Assalaamu’alaikum wr.wb, mbak Monda….

    Menarik sekali plot cerita filem ini. Penuh dengan semangat juang hidup di rantau orang dan salin membantu yang akhirnya menumbuhkan suasana akrab dalam berbagi rasa dan pengalaman. Ingin menontonnya mbak. Mudahan ada dalam you tube ya.

    Salam manis dari Sarikei, Sarawak. 🙂

  4. sama ih, jadi penasaran membaca review ini. Cara menghidupkan tungku itu aku sempat mengalami, kalau soal ngulek pakai batu bulat itu aku melihat ibu mertuaku (Palembang yang tinggal di Lampung) melakukannya. sayang aku belum belajar teknik mengulek, ngandelin blender

  5. Pernah liat thrillernya doang Bun, inget bgt ada salah satu tokohnya yg bilang (kurleb) begini : rumah makan Padang yg masak orang Papua
    hihihihi… seru sepertinya film ini ya Bun 🙂

  6. Aku blm nonton film ini, dr referensi kayaknya menarik ya.
    kenapa sepi?
    aku pikir trailernya yang kurang menarik, apalagi waktu tayang di tv, entah kenapa cuplikannya sedikit sekali dan gak bikin penasaran..hehe

    • papeda itu dibuat dari tepung sagu yg jadi kenyal2 gitu…, nggak bakalan halus kalau dikunyah… bikin capek rahang aja
      sama teksturnya dengan cireng

  7. Kesederhanaan memberikan nilai akhir yang luar biasa mbak yach..xixixi kebayang dech kalau saudara kita yang dari daerah lain, berbicara bahasa daerah orang lain. Pasti ada lucunya..seperti yang saya alami 1 bulan di Serpong zizizizizi

  8. wah,kayaknya bagus banget nih filmnya..q brlum lihat cuplikanya,wawancaranya dikit banget waktu lihat di kick andy…oke,catet!!!

  9. Assalaamu’alaikum wr.wb, mbak Monda..

    Selamat menyambut Hari Raya Aidil Adha…

    Bulan Zulhijjah bulan mulia
    Di sambut dengan hati gembira
    10 Zulhijjah kini menjelma
    Tangan dihulur maaf dipinta

    Maaf Zahir dan Bathin

    Salam Aidil Adha dari Sarikei, Sarawak
    SITI FATIMAH AHMAD

  10. Kisah dengan latar budaya biasanya banyak menyelipkan pesan ya mbak… semoga bisa nonton film ini kapan-kapan.
    terimakasih reviewnya 🙂

  11. Baca beberapa resensi mengenai film ini yang rata-rata memuji, kali ini baca lagi resensi dari Mbak Monda, bikin penasaran pengen nonton juga jadinya 🙂

  12. Namanya juga film kak, pasti akan ada konflik dan akhirnya perdamaian. Namun terkadang setting yang tidak kelihatan seperti di film itu yang mungkin susah ditemukan. Saya belum menonton film ini, jadi gak tau harus komentar apa. Tapi yang pasti yang mengangkat budaya dan kearifan lokal tentulebih baik.

  13. Kayaknya film ini bakalan laris deh soalnya akhir-akhir ini sering banget orang bicara Tabula Rasa.
    Baca review mbak Monda ini asyik sekali. terutama dibagian jalur kereta api dan becak. Mungkin saja sang penulis kurang teliti dalam memilih lokasi, sehingga ketika ada penonton yang jeli baru terasa janggalnya hehe

  14. wah, serasa pulang ya pas nonton? kebayang rasanya deh. pasti mak nyes banget. 😀

    aku juga sempat mikir soal lokasi pengambilan gambar di film itu. waktu Hans jadi kuli beras (eh, bener nggak sih kuli beras?) itu kayaknya di Cipinang deh. tapi kok ada becak? hihihi. ternyata pikiran kita sama ya. 😀

  15. […] Sebenarnya agak jarang nonton film,  maksudnya nonton film ke bioskop gitu.  Malas keluar rumahnya, kecuali kalau pas bareng anak-anak. Paling sering nonton film itu ya di TV aja. Dan nonton itu juga biasanya sih nggak bisa sampai hafal dialog atau setting, ingatanku tentang itu hilang begitu saja  terbawa angin he..he.. Salut deh sama  yang bisa mengingat ditel film. Tapi ada  kok perkecualian.  Film yang bisa kuingat ditelnya  misalnya film Tabula Rasa. […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.