Situ Cangkuang

40
253
Candi Cangkuang Garut

Selepas check  out  dari Kampung Sumber Alam  di jalan Raya Cipanas, kami harus mundur  kembali ke arah  Nagrek. Kami ingin ke Situ Cangkuang yang terletak antara Nagrek – Garut. Lokasi Situ Cangkuang tepatnya di kecamatan Leles. Kurang dari  setengah jam dari Cipanas  sudah sampai Leles,  lalu mengikuti petunjuk jalan  berbelok ke kanan. 2 km melewati  jalan kecil yang kondisinya sedang,  tetapi harus perlahan ketika berpapasan  dengan kendaraan lain akhirnya membawa kami ke lahan parkir obyek wisata Situ Cangkuang. Untuk masuk kawasan Situ membayar tiket  3 ribu rupiah per orang. 

Rakit di Situ Cangkuang

 

Rakit Situ Cangkuang

Situ Cangkuang adalah sebuah danau kecil yang dalamnya kira-kira 2 meter. Di tengah situ ada pulau kecil yang  terdapat Cagar Budaya Candi Cangkuang dan Kampung Pulo.  Debit air situ ini kurasa sudah berkurang karena  kulihat pulau ini tak benar-benar berbentuk pulau  sebab  di bagian utaranya   sudah dangkal yang menghubungkannya dengan  daratan dan dibuat sawah.

Situ Cangkuang Garut

Untuk menyeberang ke pulau ada rakit  bambu. Sebetulnya aku merasa khawatir naik rakit, kubayangkan rakitnya kecil sekali  (aku komentar ketakutan di blognya mbak   Bintang Timur he..he..).  Rasa takut itu seharusnya tak patut mengalahkan rasa penasaran mengunjungi Candi Cangkuang. Ternyata  rakit cukup besar dan terbuat dari bambu berdiameter besar dan panjang, ada tempat duduknya pula. Kuperhatikan cara pengayuh rakit  bekerja, galah bambu yang  ditancapkan  ke dasar situ tak terlalu  panjang, berarti situ ini tak dalam sekali, kalau dalam harus mengayuh dayung kan? . Jadi aku cukup merasa nyaman selama kurang lebih 10-15 menit duduk di rakit.

Ongkos menyeberang 4 ribu rupiah pulang pergi. Satu rakit itu bisa memuat  kira-kira 20 orang. Ongkos dibayarkan ketika sudah kembali dari pulau, berarti harus menunggu semua penumpang lengkap. Tapi karena kami masih akan melanjutkan perjalanan tak berlama-lama menunggu yang lainnya. Tukang rakit meminta ongkos 30 ribu rupiah sudah termasuk ongkos berangkat.

Rakit dan Pengayuhnya

 

 

 

Sampai di pulau para penumpang rakit disambut oleh deretan pedagang souvenir dan makanan. Souvenir yang dijual cukup unik,  ada miniatur rakit, candi, rumah adat  dan aneka souvenir lainnya. Pulau ini sangat hijau dipenuhi dengan pohon-pohon raksasa yang mungkin sudah berusia puluhan tahun. Menyejukkan.

Situ Cangkuang Garut

40 COMMENTS

    • sabaar kampung Naga menanti gilirannya he..he…, diirit2 ceritanya, abis banyak foto2 dan ceritanya sayang kalau cuma dibuat satu post..
      padahal cuma alesan supaya blognya keiisi terus he..he…

      • Saya juga baru tau mb, saya pikir situ cangkuang itu d sumbar. Karena cangkuang artinya dalam bhs bundo LJ adalah jongkok 🙂

        • he..he..cangkuang artinya jongkok.., baru tau da..,
          nama cangkuang di Parahyangan adalah nama pohon pandan, banyak tumbuh di daerah sekitar situ

  1. Asyik kan di sana Bun, indah nian. Saya pengen sekali lagi ke sana. Udah 2 kali tapi pengen mengunjungi lagi dan kalo bisa nginep di kampung Pulo yang asri itu.
    Sayangnya kampung Pulo rumahnya bercat modern. Kalau gak salah framenya kuning, biliknya putih. Andai saja dibuat natural bambu dan kayu mungkin kesannya lebih indah kali he he. ** banyak inginnya ha ha.

    • asyik banget kang…,
      aku cari2 spot yg difoto kang Yayat pengen duplikasi he..he.. tapi hasilnya ya masih ini2 aja

      di kampung Pulo boleh nginep kang? pulaunya asri banget ya, tapi kami nggak keliling seluruhnya

      iya rumahnya nggak asli warna bambu ya

  2. Aku belum pernah kesini. Kayaknya kalau ke Garut harus menyempatkan diri mampir nih. Tapi foto candi cangkuangnya kok gak ada, Mbak? Oh itu coklat Chocodot iklannya keren banget 🙂

  3. Di Jawa Tengah & Jawa Timur kok jarang ada “situ” ya Bu. Kalau di Jawa Barat kayaknya banyak.
    Mungkin dulunya ada tapi sudah pindah.
    Itulah sebabnya sering ada yang tanya, “SITU” mau pindah kemana?

  4. Dan libur dadakan pun tetap menghasilkan banyak amatan dan sajian. Amatan laju pendangkalan disertai foto sawah baru menceritakan banyak data ya mbak. Menunggu postingan di candi nih.
    [postingan Jeng Irma saat mengikuti kuis mbak Monda menginspirasi perjalanan empunya blog….]

    • iya mbak…aku terpengaruh dari postingan mbak Irma waktu ikut GAku..
      mbakku ini ingatannya tajam banget ya.., masih ingat aja psoting itu

  5. semoga keberadaan pohon2 besar itu terjaga ya kak.. aku suka melihat pohon2 besar spt itu.. oya kedalaman situ cangkuang kayaknya sama dengan tarusan kamang.. seblas duablas lah.

  6. Kebayang sejuknya duduk di atas rakit trus habis itu main di pulau dengan pohon-pohon besarnya Mba Monda. Semoga bisa ke sana kapan-kapan. 🙂

    • jalan-jalan keliling mengeksplor pulau, atau mancing banyak dilakukan wisatawan lain Dan..
      makin asyik berlama2 di sini

  7. Saya juga baru tau mb, saya pikir situ cangkuang itu d sumbar. Karena cangkuang artinya dalam bhs bundo LJ adalah jongkok 🙂

    • aku yakin deh…, kayaknya pernah mama Hilsya jadi penulis tamunya pak de,
      kl nggak salah tentang situ kan…, situ jnk bukan mbak?

  8. Hehehe…naik rakit disana ternyata nggak seserem yang dibayangkan ya, mbak?
    Rakitnya luas, daratan yang dipisahkan situ itu juga nggak terlalu jauh, jadi efek tenang lihat daratan itu masih bisa kita rasakan…
    Mbak Mondaaa, terima ksih sudah mengobati sedikit rasa kangen saya pada kota Garut ya!

    • sama2 mbak..
      terobsesi pengen ke Garut sejak baca2 postingan mbak …
      iya, naik rakitnya nggak nakutin…, airnya tenang dan tak terlalu dalam

  9. Gambar-gambarnya menarik…..saya jadi pengin merasakan naik rakitnya.
    Dulu sering diajak ibu alm naik rakit jika menegok nenek, karena lebih cepat waktunya, dibanding melalui jalan raya yang memutar.

  10. naik rakit bikin deg2an yah Bun.. 🙂
    Seru… Tapi sedih jg baca ttg pendangkalan Situ Cangkuang.. Sepertinya bnyk sekali danau2 yg mendangkal yah Bun.. 🙂

  11. Yang ngayuh rakitnya berapa orang, Bund?
    4ribu tuh merah banget karena dikendalikan sendiri, bukan mesin.
    Di Telaga Menjer 7ribu per sekali puteran. 🙂

    Oiya, itu koq atap bertuliskan Chocodot? Kan coklatnya orang Bandung, ya. 😀

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.