Rumah Tua Pondok Cina

39
432
rumah tua Pondok Cina

Minggu pagi yang lalu sengaja kami arahkan tujuan jalan-jalan  ke Depok, karena ada acara di sebuah mal dalam rangkaian Tahun Baru Imlek, pameran sejarah kota Depok. Aku ingin lihat tampilan masa kini dari sebuah Rumah Tua Pondok Cina. Selain itu memang ada keperluan khusus  untuk membeli kosmetik perawatan wajah  BS untuk si gadis. Mal tujuan itu Margo City di jalan Margonda, jalan yang menghubungkan Depok – Jakarta ,  tak jauh dari kampus Universitas Indonesia.

 

Ada sebuah bangunan tua yang sangat ingin kulihat lagi. Bangunan itu kabarnya masih ada di dalam kompleks mal. Bagi yang sering melewati jalan Margonda Raya Depok  di tahun 80an  atau sebelumnya  mungkin ingat pernah melihat sebuah rumah kuno megah berwarna putih di sebuah tanah kosong yang luas. Rumah itu begitu menarik perhatian karena terlihat menonjol muncul sendirian  di seluas mata memandang, apalagi masa itu di sekitarnya belum banyak bangunan besar.   Setiap melewatinya tak puas-puas kulihat bangunan itu sampai hilang dari pandangan, samalah dengan Chie yang terpesona dengan rumah cantik Menteng. Ingin sekali masuk ke dalamya, tetapi lahan itu sudah dipagar dan bangunan dibiarkan kosong tak berpenghuni..

Wilayah  sekitar jalan Margonda ini dinamakan Pondok Cina karena dahulu  di tempat ini diidirikan pondok-pondok yang ditempati para pedagang Tionghoa yang tidak boleh  masuk ke  ke tengah kota, oleh tuan tanah Depok, Chastelein.. Nama ini sudah dikenal jauh sebelum rumah  megah itu dibangun. Sedangkan rumah tua itu berasal dari abad 19, milik  arsitek Belanda tetapi kemudian dibeli oleh saudagar Tionghoa.  Kini wilayah ini  menjadi milik pengembang swasta termasuk rumah tua.

Berkali-kali melewati depan mal tapi tak pernah lagi melihat bangunan itu, bahkan pernah kutanyakan pada petugas satpam mal tetapi dia tidak tahu. Setelah googling rumah tua itu kini bernama The Old House Coffee. Dan dengan nama itu lebih mudah bertanya, petugas parkir langsung bisa menunjukkan letaknya yang di sebelah kiri pintu masuk. Sekilas kulihat ujung atapnya, langsung berdebar jantungku ingin segera melihat bentuk utuhnya. Padahal sudah 3 kali ke mal ini tapi tak pernah melihatnya. Setelah dapat parkir di bagian belakang mal, kami masuk dulu ke mal  ke toko BS kemudian melangkah ke sisi kanan depan mal melalui selasar.

Rumah tua itu kini terletak  lebih rendah dari jalan dan terhalang selasar beratap, apalagi di bagian depannya sedang ada pembangunan gedung baru yang ditutupi pagar tinggi, sehingga makin tersembunyi. Bangunan yang menjadi saksi bersejarah berdirinya kota Depok kini hanya sekadar menjadi tempelan saja.

Bagian dalam rumah tua Pondok Cina ini sudah menampilkan wajah baru. Tak terlihat nyata gaya kunonya.

 

 

rumah tua Pondok Cina

 

rumah tua dan mal

 

Terus terang aku kecewa rumah tua yang cantik ini sudah berubah. Katanya peremajaan,  tapi terlalu  banyak  yang dirubah. Bagian dalam kafe tempat kami duduk sudah  gaya masa kini walau dicoba dituakan dengan memajang deretan foto Jakarta dulu kala. Jendela besar sudah tertutup kaca karena ada pendingin udara, lantai, daun pintu semuanya sudah berubah. Menurut kasir kafe bagian bangunan yang dipertahankan hanya pilar, lantai, dinding bagian depan dan kusen pintu.

 

Update wajah Rumah Tua Pondok Cina Depok

Pondok Cina Depok "Rumah Pondok Cina"

 

Tanggal  24  Juli 2016  dari  balik kaca di  bagian dalam The Margo Hotel Depok pemandangan inilah yang tampak.   Rumah tua Pondok Cina Depok  tertutup dan cafe sudah tidak beroperasi lagi. Ada pohon beringin kecil dan lumut  yang tumbuh di sela tembok bangunan menunjukkan  cukup lama rumah tua  ini tak tersentuh.  Alamat Rumah Tua Pondok Cina di Jl. Margonda Raya No. 358, Kemirimuka, Beji, Depok, Jawa Barat.

39 COMMENTS

  1. Susah juga kali ya mba kalau tetap dipaksa kayak dulu, soalnya mungkin karena fungsinya berubah atau emang bagi yang punya, yang penting masih ada unsur rumah lamanya aja.. 🙁

  2. Urusan “blusukan” ke tempat bersejarah memang Bu Monda jagonya.
    Dan kebetulan juga negara kita kaya akan hal itu.
    Sayang seribu sayang, sebagian besar diantaranya kurang perawatan dan nyaris terabaikan.

    • ya pak, kalau masih bisa difungsikan seperti rumah ini ya bagus deh, asalkan unsur lamanya masih dominan, karena bangunan lama itu kan cantik dan kokoh

  3. hadehh, yg lihat rumah tua bisa berdebar kayak menemukan pacar.. 😛

    bahwa elemen tua adalah hal yg sangat berharga tampaknya kurang diperjuangakan secara mati2an sama orang sini kak..

    • bangunan ini nggak ditetapkan sebagai cagar budaya, jadi terserah pemiliknya mau diapain he..he…

  4. Bertahun-tahun kuliah di UI tidak pernah memperhatikan adanya rumah pondok Cina :D. Sayang sekali bangunan bersejarah kini hanya menjadi tempelan saja.

    • nggak pernah lihat ya Nel?
      kalau naik angkot turun di sini sebutnya “karet” karena dulu juga bekas kebun karet
      kalau dari UI sebelah kiri jalan

    • bisa juga jadi rumah hantu he..he… karena dekat kuburan kuno Cina juga, kuburan keluarga pemilik lama

  5. Mbaaak…saya baru datang, maaf yaaa…
    Eh, kenapa saya nggak tau tempat ini ya mbak?
    Padahal Depok itu kan tetanggaan sama rumah saya sekarang…
    Kapan-kapan kalo kesana lagi, saya mau ngintip ah 😀

    Mbak, saya juga suka merasa sayang kalo bangunan tua peninggalan Belanda dijadikan buat usaha. Kesannya jadi aneh. Tapi mungkin biaya perawatan bangunan-bangunan itu juga nggak murah, jadi mau tidak mau, harus dicari cara untuk menghasilkan uang dan memeliharanya dengan anggaran yang didapat dari usaha itu.

    Weits, kenapa komen saya jadi serius gini?
    😉

    • iya…mbak.. sekarang letaknya tersembunyi ….
      aku juga terkecoh kok, yang memang udah sering liat dulu …nyempil sih..

    • mbak ..sorry….. masuknya ke kotak spam…udah kukeluarkan
      aku baru bisa buka spamnya dan ternyata ada 11 komen teman2 di sana, termasuk komen reply dariku he..he…
      galak banget satpamnya

    • mungkin waktu mbak Lidya kuliah di sana.. daerah itu belum jadi tempat nongkrong….., paling cuma ada warung tenda sih…

  6. saya juga sama kecewanya mendengar yang seperti ini.. seperti halnya rumah cantik di menteng yang di rubuhkan… hiks..

    Ya mungkin ini kemajuan jaman.. tidak selamanya gedung harus tetap dipertahankan begitu kali mikirnya ya..

  7. Kalau sudah tua terus diremajakan, berarti jadinya benar-benar baru. Dan sudah pasti gak kelihatan lagi tua atau kuno-nya. Kecuali judulnya dirawat….
    Sayang ya. Padahal makin vintage tentu makin menarik dan berharga untuk dikunjungi.

  8. Ketika sy ke jkt di tahun 1977 dan sering main ke depok, saya sudah melihat bangunan ini, karena banyak keluarga saya yg tinggal di depok, jadi hampir setiap naik angkot pasti lewat di sini.
    Kalau g salah Sampai tahun 2001 bahkan 2003 kayaknya masih ada, karena sy masih sering bolak-balik k depok…… 🙂
    Nah setelah itu saya tidak mengikutinya lagi, beberapa tahun belakangan ketika margonda city berdiri baru saya tau bahwa bangunan ini masih tetap dipertahankan meskipun kondisiny spt yg bu monda gambarkan di atas. 🙂

  9. kalau udah dijadikan cafe gitu memang akan disesuaikan dengan fungsinya ya bun. kecuali dijadikan museum, pasti lebih cantik

  10. Lantai kunonya cuma sisa yg di teras aja ya? Hiksss… padahal lantai terakota berwarna merah itu mahal harganya, jauh pula bawa dari Tiongkok ratusan tahun lalu.

  11. Saya seorang laki-laki kelahiran tahun 1987. Asli lahir di Gang Langgar Margonda Raya Depok yang persisnya berkediaman di belakang Gedung Tua Tersebut.

    Sedikit mau curhat saja.

    Dengan sadar saya merasakan sesak di dada melihat perubahan kampung halaman saya yang sangat pesat dan maju. Ya ini lah kehidupan modern, pembangunan di mana-mana. Tapi fakta melihat bukti-bukti sejarah mulai berubah itulah yang membuat sesak di dada.

    Masih sangat jelas terbayang gambar Gedung Tua saat di mana pembangunan Mall Margo City belum ada. Gedung Tua tersebut terlihat tempat yang sangat disegani oleh sebagian warga Kampung Gedong (kampung belakang Mall Margo City) termasuk saya pribadi.

    Gedung Tua itu terlihat angker bagi kami dan kami pun sangat senang dengan keberadaan gedung itu dulu. Tempat di mana kami bermain mencari hewan buruan seperti burung, ular, kelinci, ayam sawah, dan sebagainya. Rumput atau dedaunan untuk pakan ternak. Bermacam buah-buahan bisa kami dapatkan di kebun sekeliling Gedung Tua itu.

    Saat ini, kami hanya bisa melihan bangunan gedung modern yang semakin tinggi di sana. Kami tau ini dalah kemajuan tapi kami berharap kenangan kami masih terjaga dengan baik dan semua pihak menjaganya.

    Terima Kasih,

    Guruh Muluk Angkasa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.