Pengalaman Sidang Tilang di Pengadilan

28
6490

stop-634941_1280, sidang tilang di pengadilan

Pengalaman sidang tilang di pengadilan  ternyata tak menyeramkan sama sekali. Tilang pelanggaran lalu lintas kurasa pernah dialami oleh sebagian besar pengemudi kendaraan bermotor.

Bukannya main tuduh sih.  Karena  kok rasanya banyak sekali dengar cerita teman-teman tentang pengalaman kena tilang oleh polisi lalu lintas.

Tapi sebagian besar kisah tilang itu berakhir dengan jalan damai. Jarang sekali yang pernah merasakan pengalaman sidang tilang di pengadilan negeri.

Penyebab kendaraan dihentikan polisi

Kena tilang itu bukan sebuah peristiwa yang amat sangat memalukan lho, jadi santai saja.

Seumur hidup punya SIM  kurasa seseorang itu paling tidak  pernah sekali melakukan pelanggaran lalu lintas.

Coba kuhitung sudah berapa kali aku kena semprit pak polisi.

Seingatku minimal sudah pernah 4 kali kena teguran. Umumnya karena salah jalan. Alhamdulillah selalu saja dimaafkan sama pak polisi, cuma dikasih wanti-wanti agar jangan meleng dan

Perhatikan rambu lalu lintas

“Silahkan jalan bu, lain kali perhatikan rambu ya” . Tuh baik kan pak polisinya, katanya kudu bisa baca rambu-rambu lalu lintas.

Kok bisa sih selamat dan pak polisi tak mengeluarkan surat bukti pelanggaran?

Biasa saja.  Keluarkan jurus the power of ibu-ibu wk.. wk…

Tapi bukan jurus ibu-ibu nekat yang kasih sein kiri beloknya ke kanan ya. Kaum ibu kan sudah terkenal punya banyak ilmu berkelit. Tidak perlu salam tempel. Tak usah ngotot kalau memang salah. Minta maaf saja ke petugasnya. Biasanya dengan  kasih jurus muka lugu innocent  atau memelas pak polisi akan jatuh kasihan.

Bukan hanya dengan cewek pak polisi berbaik hati.

Suatu kali pergi berdua dengan  almarhum bapakku. Beliau yang menyetir. Kami diberhentikan pak polisi karena   ternyata lampu merah sudah menyala.  Lalu diminta keluarkan SIM. Pak polisi  melihat SIM dan lalu langsung dikembalikan. “Hati-hati pak, kalau bukan pak Siregar sudah saya tilang”.

Jadi bertanya-tanya mengapa kami dibiarkan lewat dan cuma diingatkan agar selalu mentaati lampu lalu lintas.  Lho kami tak kenal polisinya. Dan ini bukan masalah kesamaan suku atau nama keluarga. Lha pak polisinya bicara dengan aksen Jawa yang medok.

Sidang Tilang di Pengadilan Negri

Nah, aku pernah  ikut sidang tilang.  Cerita ini sengaja kubagi karena  miris lihat orang lain ditilang pak polisi sampai bisa sebegitu marahnya dan jadi berita viral di mana-mana.

Padahal ada cara lebih elegan menghadapi petugas yang menahan SIM.

Apa itu?

Taat peraturan dan mengakui kesalahan. Nggak usah pakai salam tempel dan jalan damai ke pak polisi. Pakai saja “jalan perang” he.. he… yaitu hadir di sidang tilang.

Tetapi tak selamanya aku berhasil lolos dengan jurus muka innocent atau pasrah.

Latar Belakang dapat surat tilang

Sekali waktu saat pulang kerja, karena keasyikan bercerita dengan teman aku nggak perhatikan ada tanda dilarang berbelok ke jalur cepat.  Aku lihat di jalur cepat di belakang kendaraanku  ada mobil patroli lalu lintas yang berjalan sangat lambat. Dengan santainya kumasuki jalur cepat.  Tuh karena nggak merasa salah cuek saja lihat mobil polisi tersebut.

Pak polisi langsung kasih tanda suruh berhenti. Sudah pasti mobil patroli langsung menghampiri. Dengan tenang, tak ada suara membentak si bapak tanya SIM dan STNK.  Oh iya, kejadiannya di Kemayoran 4 atau 5 tahun yang lalu.

Intinya ya aku disalahkan karena melanggar rambu. Kali ini entah kenapa aku malas berbantah, mungkin lelah sehabis pulang kerja. “Lalu bagaimana ini  bu?”  dan jawabanku  ” ditilang saja pak”. Pasrah banget yak.

Kupikir dengan pasrah seperti itu bakal batal ditilang. Eh salah pilih jurus andalan. Pak polisi mengeluarkan buku tilang dan mencatat. Dia  kasih tahu jadwal sidang. Yaitu 2 minggu kemudian di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat di jalan Gajah Mada sesuai wilayah pelanggaran.

“Bisa hadir bu?”

“Bisa pak,  dekat kantor saya” kataku enteng. Padahal sih sesudahnya aku menyesali kenapa tak minta kebijaksanaan dengan alasan tak lihat rambu.

sidang tilang di pengadilan

Proses sidang pengadilan

Jadi di hari dan jam yang ditentukan dengan nekatnya aku datang ke pengadilan negeri sendirian.

Jaman itu masih banyak calo berkeliaran mulai jarak  beberapa meter dari gedung pengadilan. Dari dulu nggak mau pakai calo. Aku agak ngeri berhadapan dengan mereka dan pula  malas negosiasi dengan calo. Makanya aku langsung menuju ke lantai dua.

Suasana ruang sidang

Di lantai ini ada petugas yang menunggui meja dengan banyak tumpukan SIM. Kuserahkan surat bukti tilang, lalu aku disuruh masuk ke ruangan. Katanya tinggal tunggu panggilan.

Di ruang sidang yang luas seperti aula banyak orang yang sudah duduk menanti.

Wah sepertinya masih akan lama menunggu di sini. Harus sabar deh jangan mengeluh. Ternyata masa tunggu itu tidak terlalu lama. Yang dipanggil menghadap hakim  sekaligus 5 orang, bukan satu per satu.

Akhirnya setelah beberapa kali panggil tiba giliranku. Aku beserta 4 orang lainnya dipanggil maju ke depan meja hakim.    Kami duduk di kursi panjang.  Seorang petugas membacakan kesalahan kami masing-masing, lengkap disebutkan lokasi kejadian.

Pak hakim mulai mengajukan pertanyaan : ” Ibu, apakah benar  ibu  melakukan seperti dibacakan oleh petugas tadi? Apakah ibu mengaku bersalah telah melakukan pelanggaran ini… bla..bla…?”

Aku mengakui.

Lalu hakim melanjutkan :  “Menurut undang-undang pasal sekian  ibu harus membayar denda kepada negara sebesar Rp 40.000,-” tok.. tok.. pak hakim mengetuk palu.

Sidang untuk kami dinyatakan selesai. Masing-masing kami dapat selembar kertas yang sudah ditandatangani pak hakim. Lalu aku menghampiri petugas polwan di dekat pintu keluar ruang sidang.  Kertas tersebut kuserahkan dan  membayar  uang denda di tempat.  Lalu petugas menyerahkan   tanda terima untuk mengambil SIM di meja di luar ruangan.  SIM A milikku diserahan.

Selesai sudah proses pengadilan tilang. So simple. Hanya begitu saja, tak ada yang rumit, tak ada yang seram. Oh ya perlu diketahui, ini kejadian di tahun 2008. Jadi mungkin saja ada perubahan tata cara sidang, aku tak tahu.

Cerita ini telah berulang kali kubagi kepada teman-teman yang kena tilang. Maksudnya supaya jangan takut menghadapi sidang tilang.  Tak usah khawatir berlebihan, ikuti saja prosedurnya. Mudah sekali kok.

Tapi aku tak selalu berhasil encourage orang lain untuk berlaku sama. Contohnya dengan seorang satpam di tempatku bekerja.  Satpam kan harusnya berani ya. Tapi pak satpam ini berbeda, dia tetap suruh orang lain yang datang ke pengadilan, tentu dengan imbalan dong. Padahal dia punya waktu untuk datang. Aku sampai geleng-geleng kepala heran.

Kenapa orang-rang lebih senang dengan ‘cara damai’  padahal itu memberikan peluang pungutan liar ? Itu  karena kita sudah terbiasa dengan gaya hidup yang serba instan. Semua urusan maunya harus serba kilat, cepat selesai dan nggak pakai repot.  Ada yang mengatakan kalau bisa cepat dengan salam tempel kenapa juga harus jalani sidang yang menghabiskan waktu.

Membiasakan diri mengurus surat-surat akan lebih baik dari pada dengan calo. Pengalaman sidang tilang di pengadilan  yang kurasakan ini  nggak merepotkan bukan?

28 COMMENTS

  1. Setuju, sidang pengadilan itu tidak semenakutkan yang dipikir orang-orang kok. Ya mungkin karena yang ditonton sidang Jessica sih ya, pidana berat, makanya wajah pengadilan jadi sangar banget. Di awal-awal main ke pengadilan saya juga takut, tapi setelah dijalani santai saja, hehe. Untuk sidang-sidang yang lain hakimnya biasa saja. Cuma kalau capek saja mungkin agak jutek. Hakim juga manusia, nggak mungkinlah makan orang.
    Menurut saya banyak masyarakat kita yang termakan pikirannya sendiri kalau ke pengadilan nanti begini dan begitu, akhirnya ogah ke pengadilan dan memilih diuruskan orang. Atau tidak datang sidang kemudian diputus verstek dan mengambil barbuk di kejaksaan. Padahal diurus sendiri tidak rugi uang banyak. Kecuali rugi waktu sih, hehe.

  2. kalau diblang rugi waktu sih kurasa sebanding deh dengan dapat kesempatan mengamati syuatu kejadian yang tak setaip hari dilihat,
    dan… akhirnya bisa jadi tulisan di blog he.. he..

  3. Bener Mbak, sidang itu lebih mudah kok. Saya juga pernah bikin postingan seperti ini waktu suami kena tilang. Hanya ijin kantor beberapa jam aja, sudah selesai urusan.
    Maleslah kalau harus lewat jalan damai. Lagian juga udah diwanti2 sama sahabat blogger yg polisi itu, jangan mau damai katanya .. hehehe.

    Sama juga nih Mbak, suka cerita pengalaman sidang ke yang lain supaya mereka jangan mau jalan damai, tapi tetep aja yg dikasih tau itu memilih jalan damai.

    • kesal ya udah dibagi cerita gampang ikut sidang kok ya masih mau aja pakai jasa calo dan jalan damaia..
      kalau jadi pakai e-tilang mungkin lebih banyak yang mau ya bu

  4. Ini pengalaman buatku Kak.
    Lha, wong ga punya SIM, bisanya naik motor matic, itupun sekitaran rumah. Jagonya naik sepeda *tapi sekarang udah sering ngos-ngosan 😀

  5. Sharing pengalaman yang menjadi edukasi menarik mbak. Utamanya usahakan taat peraturan, lah kalau melanggar yah berani menghadapi konsekuensi, dengan pandangan positif sidang tilangpun jadi pembelajaran berbonus postingan. Salam

    • iya mbak, beajar dari pengalaman sidang tilang itu mudah
      mudahan nanti dengan bayar elektronik, semakin memudahkan

  6. saya udah berapa kali dapet tilang.. dan ada satu kali tilang yang saya gak ngerti kesalahannya apa, tapi pak pilisi tetep nilang meski saya tanya kesalahannya apa.

    waktu belum punya sim sering kena tilang, tapi giliran punya sim belum pernah nunjukin sim ke polisi alias di tilang. kadang merasa rugi 😀

  7. Saya pernah sekali mengikuti sidang tilang tahun 2012 di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Sekali mengikuti sidang waktu itu banyak orang, kalau saya tak salah ada sekitar 5 orang semua peserta sim C. Sidang cuma sebentar dibacakan pasal yang dilanggar, menerima putusan, bayar uang denda, bawa bukti pembayaran ke tempat pengambilan sim, ambil sim, selesailah sudah. Cuma menunggu giliran saja yang lama. Itu sebelum ada saber pungli.
    Gak tau sekarang mungkin lebih mudah kali ya.

  8. Aku juga pernah ditilang dan ikut persidangan di jalan Gajah Mada kak. Kejadiannya tahun 2015. Tapi waktu itu gak ada pak hakim gitu kak. Semua dapat nomer antrian, trus masuk ke ruangan. Yang kena tilang dipanggil sesuai nomer antrian. Ada beberapa orang dari pihak pengadilan yang berjejer di meja. Kalau sudah giliran dipanggil, kita dibacakan kesalahannya dan denda yang harus dibayar. Bayar dendanya pun langsung disitu. Mungkin sudah berbeda aturan ya dari kejadian kak Monda.

    Pengalaman yaah… Tapi ternyata gak seribet yang dibayangkan sih hehehe 😀

  9. Belum pernah ngalamin kak karena nga bisa naik motor ataupun mobil. hehehehe.. lihat jalanan rame gitu rasanya gampang bangat panik. Apalagi nemu polisi dan kita yang jadi sasaran empuk nya. Entah kenapa emang sosok polisi atau aparat keamanan gitu seumpama sosok yang angker dan menyeramkan. Hehehe..

  10. Alhamdulillah belum pernah (dan jangan sampai) ditilang..
    Lha wong udah jarang mengendarai sendiri hehe
    Tapi entah gimana suka kesel sendiri kalo ada kerabat/keluarga yg ditilang, kadang suka gak masuk akal 🙁
    Oiya, salam kenal mbak. pertama kali mampir 🙂

  11. Aku belum pernah sih kena tilang,
    padahal aku kalo lagi bawa motor itu ngeselin banget lho mbak bhahahaha..
    Aku kalo bawa lelet dan gak pernah mau nyusul,
    Jadi kalo lagi di belakang angkot, terus angkotnya berhenti 3 kali, aku pun ikutan berhenti 3 kali bhahaha.

    Pernah konvoi motor barengan si Nchie dan Tian dan mereka sampai geleng2 kepala lihat kelakuan akoh bhahaha.

    • iya, aku bayar segitu mbak..
      nggak tau kalau jenis pelanggaran lain, mungkin ada tarifnya masing2

  12. Mmmm, gimana ya, aku pernah kena tilang, sekali seumur hidup, mudah-mudahan itu aja deh mbak. Disuruh bayar di tempat aku gak mau. Trus akhirnya disuruh sidang. Ya begitulah. Meskipun ditilangnya di luar kota, dan mesti ke kota itu lagi 2 minggu kemudian.

  13. Besok (31/01/2019) sidang tilangan :D. Baca artikel ini supaya tahu gimana prosedurnya, hehehe makasih buibu :D. Kebetulan Blogger juga, mau posting pengalalamannya nanti ahh, heuheu 😀

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.