Penanda Kota

44
91

Jam Gadang,  tempat wisata yang pertama dikunjungi ketika   melancong di kota  Bukittinggi. Wajar  saja karena bangunan ini sudah menjadi penanda kota, sejak pertama didirikan (1926) sampai sekarang. Jam Gadang hadiah dari Ratu Belanda ini sering disamakan dengan Big Ben karena ternyata kesamaan kedua jam besar ini memakai mesin  yang hanya ada dua di seluruh dunia.

Jam Gadang BukittinggiPenanda kota atau landmark biasanya berupa bangunan khas yang dengan melihatnya saja orang sudah tahu asal kotanya, seperti menara Eiffel untuk Paris, atau Monas untuk Jakarta.

Tugu Tabot di Bengkulu, bangunan yang masih terbilang baru dimaksudkan untuk itu juga. Bentuk tugu ini diambil dari bentuk arak-arakan tabot pada tanggal 10 Muharam yang pada sejarahnya melambangkan peti mati cucu Nabi Muhammad SAW yang tewas di pertempuran Karbala, Irak.  Tabot hanya ada di Bengkulu dan di Pariaman  – Sumatera Barat dengan sebutan sedikit berbeda, Tabuik

Tugu Tabot - Bengkulu
Tugu Tabot – Bengkulu

 

Dalam setiap perjalanan kuusahakan agar bisa mendatangi penanda kota itu. Sayangnya ketika ke Semarang, gedung Lawang Sewu masih dalam tahap renovasi, sehingga hanya bisa mengambil foto dari jauh saja tanpa sempat masuk ke dalamnya. Begitupun ketika ke Yogyakarta sangat ingin berfoto di Tugu Jogja, tapi aku tak berani mendekatinya karena tugu tua yang terletak di tengah persimpangan itu lalu lintasnya sangat padat, menyesal sekali.

Lawang Sewu – foto lama Lawang Sewu difoto di Museum Kereta Api Ambarawa

Tugu Gajah Lampung ini pun  terletak di persimpangan yang cukup padat.

 

Penanda kota Demak sudah pasti  Masjid Demak yang merupakan masjid tertua di Indonesia. Bahkan bentuk atap masjid ini menjadi patokan beberapa masjid tua didaerah lain seperti Masjid Tuo Kayu Jao, Sumatera Barat. Penanda pulau Bali kurasa adalah monumen Garuda Wisnu Kencana, yang meskipun pengerjaannya terhenti tetapi monumen ini sudah sangat dikenal.

 

Masjid Demak

Garuda Wisnu Kencana

Nah, aku jadi ingin tahu bangunan apa yang menjadi penanda kota tempat tinggal sahabat ? Berbagi cerita yuk..

 

44 COMMENTS

    • trims infonya ya Mimi,
      langsung browsing dan takjub dengan megahnya masjid seribu tiang ini, cantik ya… dan adem pastinya karena aliran udaranya lancar

  1. Dulu di payakumbuh, ada jam gadang pula sebagai penanda kota yang mirip bukittinggi.. tapi jam gadang itu ke-gadang-gadang-an (jam gadang sombong)… ukuran jam nya kecil, tapi letaknya di tengah jalan.

    • hi..hi.. bisa aja jam kegadang2an …
      lebih patut lembah Harau yang jadi penanda … eh tapi itu kan bukan gedung… ngeralat sendiri

      • hehhe, batas kota bukik di empat penjuru mata angin juga ditandai dengan tugu jam gadang dengan ukuran kecil.. tapi ada beberapa yg kondisinya sudah tidak bagus lagi.

        oya untuk agam penandanya adalah patung harimau.. krn dari dulu agam identik dengan inyiak balang ini.

  2. kalo di jember sepertinya tidak ada landmark khusus, hehe

    maklum, jember hanya kota kecil yang ada hanya kampus UNEJ, mungkin kampus unej yang jadi landmarknya, hehehe

  3. apa ya kalau di tengerang ya… kok ga pernah ketahuan ada monumen seperti itu ya… coba browsing dulu ah… jadi malu….

  4. Di pusat kota Tangerang jg ada monumen yg aku kira pantas juga diseebut sbg landmark Mbak. sebuah bola dunia yg ditulisi Allah dng huruf Arab. Dia terletak dipersimpangan jln, cuma gak hapal nama jalannya 🙂

    • Gedung Sate yang sering dilewatin malah belum punya fotonya lho Rin…
      mau ah kalau jalan ke Bandung , mampir yuk

  5. Jadi pengen ke Lampung lagi begit liat tugu gajahnya. Saya dulu kos tidak jauh dari tugu itu loh Mba Monda. Hehehe. *penting*

  6. sepertinya gak yakin juga kalau di Tangerang ada bangunan yg bisa dijadikan sebagai penanda kota, BunMon
    namun begiutu, ada sebuah masjid yg bernama Masjid Raya Al- Adzom yg punya kubah tumpuk yg cukup unik yang sangat mudah dikenali, dan terletak dekat kantor pusat pemerintahan kota Tangerang
    apakah bangunan masjid ini memenuhi kriteria sebagai penanda kota, kurang tau juga deh … 🙂
    salam

    Masjid ini unik ya bentuknya kubahnya mirip kerang

  7. nah kalo Aceh (Banda Aceh) tuh landmarknya adalah Mesjid Raya Baiturrahman mba… tapi sekarang ada icon baru yang juga menjadi penanda kota Banda Aceh yaitu museum tsunami Aceh dan Kapal PLTD apung.

  8. Kak Monda di Madiun ada satu perempatan yang disebut Tugu, tapi sayangnya tidak ada tugu sama sekali di sana. Kata orang, zaman dulu memang ada tugu. Sekarang cuma tinggal nama. Kalau saya di Jakarta, penanda kotanya jelas Monas hehe.

  9. kalo di daerahku, begitu masuk kota Ponorogo (keluar dari Madiun) sudah ada tugu khas Reyog beserta warok dan penarinya dengan burung merak, yang menyambut. Ciri khas dari Ponorogo yaitu kesenian Reyog, mbak.

  10. kalau di Ciamis ada yg namanya Taman Raflesia
    kalau di Bogor ada tugu Kujang
    Kalau di dekat rumah saya ada Astana Gede, pusat kerajaan Sunda tertua zaman dulu 😀

  11. kalau di bekasi, dulu pernah ada namanya patung lele. adanya di perempatan ujung jl. juanda, atau sering disebut daerah bulan2, di dekat stasiun kereta api bekasi. tapi sayang, sekarang patung itu dibongkar dan diganti dengan billboard besar. menurutku, merusak pemandangan banget tuh billboard

  12. Sepertinya kalo Samarinda adalah masjid Islamic center-nya deh…
    Keknya yang datang ke Samarinda, banyak yang merasa wajib foto2 disitu 😀

  13. Di Tanjung Pinang kayaknya ada patung Raja Ali Haji, Mba.. Sekarang patungnya lagi dalam proses pemindahan ke tempat baru. Nggak jauh dari tempatnya yang lama, tapi agak menjorok ke arah laut. Soalnya tempat yang lama agak kurang terlihat sih…

    Kalo pulau Penyengat penandanya adalah mesjid Penyengat. Udah pernah kesana, Mbak?

  14. Kalau di Curup, ada tugu bunga raflesia di tengah-tengah kota, Kak. Meski bentuknya tidak begitu bagus, tapi itu sudah menjadi penanda bahwa kita sudah berada di Curup..

    Kalau di Jogja, ada banyak, dan yang lebih sering adalah Tugu Jogja. Kak Monda pastilah sudah tahu dengan tugu ini bukan? 🙂

  15. Kalo di Tasikmalaya apa ya?
    Mungkin masjid raya, tapi kalo dilihat dari fisik bangunannya, hmmmm tidak terlalu berbeda dengan masjid-masjid yang lain, sehingga kalo dibilang landmark… kok menurut saya belum bisa ya?

    Salam,

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here