Jika orang Jakarta  ramai-ramai ke Kebun Binatang Ragunan atau ke Taman Mini di  hari-hari libur Lebaran, orang Lampung senang ke pantai. Maklum saja, sebagai propinsi paling selatan di Sumatera, propinsi ini kan dikelilingi lautan, hanya batas utaranya saja yang berbatasan dengan daratan, yaitu propinsi Sumatera Selatan dan Bengkulu (he..he.. diajak penyegaran  geografi dulu ya..).

Pantai yang paling ramai didatangi masyarakat dari  berbagai sudut propinsi Lampung  yaitu pantai Pasir Putih di Lampung Selatan. Keriaan di sini selalu berhasil memacetkan jalan lintas Sumatera he..he…, biasanya ada  acara dangdutan di pantai. Makanya dulu kami lebih suka ke Pasir Putih di sore hari pertama lebaran, masih sepi.

Pantai lain yang coba kami datangi yaitu pantai Mutun sekalian mau cari pindang kepala simba untuk makan siang.  Kalau pantai Pasir Putih ke arah selatan, pantai Mutun ini jalannya  ke arah barat, masih selangkah dari pusat kota Bandar Lampung,   tepatnya di Padang Cermin, perbatasan Teluk Betung Timur  dengan kabupaten Pesawaran. Pantai Mutun tak sepadat Pasir Putih, tak ada acara dangdutan. Tetapi di sini pengunjung bisa mandi di laut, main pasir,  main banana boat,  dan  menyeberang ke pulau Tangkil. Di pulau Tangkil  fasilitasnya hampir sama tetapi lebih sepi dan pantainya lebih putih.

IMG_9909

Kami  mencoba menyeberang ke pulau Tangkil, padahal sebetulnya aku takut tetapi anak-anak berani mencoba, ya sudahlah ikut saja.  Di situ Patengan dan situ Cangkuang yang anteng saja aku deg-degan bagaimana di sini ya..

Inilah  perahu yang akan dipakai, perahu bersayap, yang di daerah lain disebut  perahu bercadik, atau disebut kole-kole di Maluku.  Karena tak ada pelampung, kami minta dibawakan ban, meskipun tukang perahu bilang perahu tak akan terbalik  karena ada sayap. Perahu ini punya 2 buah motor tempel.  Kami tawar menawar dengan bapak pemilik perahu, hingga dicapai kesepakatan ongkos Rp 15,000 per orang  untuk menyeberang dan mengelilingi pulau Tangkil.  Jika ingin  bersenang-senang di pulau, dia akan menjemput lagi, tinggal telfon dia lagi.  He..he….aku jadi mikir kalau di pulau tak ada sinyal bisa-bisa kami tak bisa balik..

Pantai Mutun Lampung

 

Ternyata, yang mengemudikan perahu bukanlah bapak tadi, tetapi dua orang anak kira-kira usia 15an. Waduuh, kok jadi serem, kalau ada kejadian apa-apa bisakah mereka sigap menolong?

Laut yang kelihatannya tenang, tetapi karena perahunya kecil terasa sekali hempasan ombaknya. Kami semua menjerit-jerit dan berpegangan pada perahu. Air  laut tampias dan mulai membasahi baju. Tak sampai sepuluh menit perahu mulai mendekati pantai pulau Tangkil.

IMG_9916

Tapi kami tak hendak turun, matahari sangat terik, daripada tambah gosong he..he… Maka perahu memutar dan kami minta mengelilingi pulau saja. Sampai mendekati ujung pulau ini terlihat hamparan laut lepas dan hempasan ombak makin tinggi. Jeritan kami semakin menjadi-jadi dan kemi putuskan tak usahlah berkeliling pulau dan kembali ke pantai Mutun saja.

IMG_9928

IMG_9925

 

Begini saja sudah takut, bagaimana kalau pergi ke Teluk Kiluan dan harus berperahu ke laut lepas di pagi buta demi menyongsong pasukan lumba-lumba ?  Nggak usah  naik perahu seperti ini ya, mudah-mudahan  saja perahunya lebih besar.  Dari pantai Mutun ini kurang lebih 3 jam lagi bisa sampai ke Teluk Kiluan lho.  Ngomong-ngomong aku sudah pernah lho diikuti rombongan lumba-lumba di laut lepas  sewaktu dulu kami berwisata ke Raja Ampat.