Terinspirasi dari kalimat uni Evi yang meninggalkan komentar di Weekly Photo Challenge : Surprise

Daerah yang bertetangga pasti punya banyak kemiripan budaya ya Mbak Mon..Kemiripan tradisi kita pasti bukan hanya di kopi daun, tapi juga melebar ke makanan lain, upacara adat, maupun tradisi sehari-hari..

 

Betul yang dikatakan uni Evi, kemiripan ada di keseharian kami juga, karena Sumatera Barat bertetangga dengan Sumatera Utara. Secara kasat mata dan dalam waktu perjalanan yang singkat buktinya ini nih…masjid. Kemiripan tak terbatas dari bentuk bangunan atau kubahnya, tapi dari fungsi masjid itu sendiri.Di daerahku, kompleks masjid selalu dilengkapi dengan pancuran, sumur dan kolam penampungan air yang dipakai selain untuk berwudhu juga untuk keperluan sehari-hari, untuk mandi atau keperluan rumah tangga. Jaman dulu itu air dialirkan dari mata air di atas gunung ke kolam-kolam penampungan di halaman masjid saja dan belum ke rumah. Kalau sekarang di kampung sudah mendapat pasokan air bersih dari PAM, tetapi kolam masih tetap ada.

Bentuk kubah masjid desa Rao-rao unik mengambil bentuk atap bagonjong rumah gadang.

Pernah kuceritakan ketika kami mandi cara kampung  di kolam air panas di masjid kampung sebelah, tak jauh dari kampungku di Sipirok Sumut sana.  Kaum wanita mandi di kolam dengan memakai kain basahan. Sama kan, di sana di masjid ada kolamnya juga.

Dalam perjalanan tour Ranah Minang menuju daerah Batusangkar kami melewati wilayah tempat sang penjaga ladang dibesarkan. Di salah satu desa di sini yang bernama Rao-rao kami berhenti di depan masjid yang memang terletak di tepi jalan raya. Sengaja singgah karena salah satu ipar oom abang berasal dari desa sini. Jadi maksudnya mau kasih pandangan langsung keadaan terakhir di desa. Di halaman masjid ada kolam besar, kolam yang kata uda ipar sering direnanginya semasa kanak-kanak. Di belakangnya tampak deretan kamar mandi pria. Untuk wanita, kamar mandi dan kolamnya terpisah, lebih tertutup. Kamipun berpose di kamar mandi terbagus dibandingkan kamar mandi di tempat wisata yang kami datangi di seluruh Sumbar

Kulihat memang di sebagian besar masjid di Sumatera Barat masih mempertahankan kolam penampungan air. Selain kolam masjid kesamaan juga ada pada bentuk bangunan rumah yang berkolong dan terbuat dari kayu yang sudah menghitam. Bentuk rumah batu pun mirip, seperti rumah di bawah ini yang mirip rumah saudara kami di kampung. Tak hanya itu, tempat tidur berkelambu (poster bed) di rumah kelahiran Bung Hatta sama dengan tempat tidur opungku.

rumah tua

Sungguh, perjalanan ini membuatku rindu kampung halaman kelahiran almarhum papaku. Kampung yang terakhir kutengok hampir 19 tahun lalu. Perjalanan berikutnya kuharap   bisa kembali ke sana lagi, semoga.