Menyusuri Kelenteng Talang Cirebon dan Kelenteng Sam Po Kong Semarang

20
2086

Kunjungan pertama ke kota Semarang tahun 2011 tak dikhususkan wisata, tetapi menghadiri undangan pernikahan. Makanya belum sempat mengunjungi   kelenteng Sam Po Kong (orang Semarang menyebutnya kelenteng Gedung Batu) yang menjadi salah satu  ikon pariwisata ibukota propinsi Jawa Tengah. Akhirnya jadi penasaran banget deh. Rasa penasaran itu sedikit terbayar karena dalam perjalanan pulang secara tak sengaja menemukan Cagar Budaya Kelenteng Talang Cirebon yang punya hubungan dengan Sam Po Kong.

Kelenteng Talang Cirebon

Pulang dari Semarang   keluarga raun  menginap semalam di Cirebon.  Tentu saja kesempatan ini dimanfaatkan dong untuk wisata kuliner aneka hidangan khas kota udang.  Tujuan kami antara lain mau cari  Nasi Jamblang ngetop  di sekitar pelabuhan Cirebon. Eh tak dinyana   kami malah secara kebetulan  menemukan Kelenteng Talang ketika raun-raun di sekitar pelabuhan.

Kelenteng Talang  ini sudah ditetapkan sebagai Cagar Budaya dan  katanya merupakan  petilasan  atau tempat persinggahan Sam Po Kong. Lokasinya di depan gedung tua  BAT.

Secara kebetulan  tertumbuk pandangan mata pada plang cagar budaya Kelenteng Talang. Dipersilahkan masuk ke dalam oleh bapak-bapak yang sedang duduk di teras kelenteng. Melihatku ragu melangkahkan kaki, kata  mereka  tak usah sungkan, pemeluk agama lainnya  banyak juga yang sengaja datang untuk melihat bukti sejarah.   Memang dari buku tamu kulihat banyak orang datang dengan alasan itu. Selain perlengkapan keagamaan, di sini juga ada sebuah pohon keluarga yang dimulai  dari Raja Majapahit Hayam Wuruk sampai ke pendiri Kelenteng Talang, Tan Sam Cay. Pohon keluarga ini  menunjukkan kedekatan darah raja-raja di Jawa lainnya dengan keturunan Tionghoa perantauan.

Para bapak ini pula yang mengabarkan keberadaan cagar budaya lainnya yaitu  Masjid Merah Panjunan. Alamat dan ancer-ancer  yang  diberikan cukup jelas  sehingga langsung kami cari sepulang dari sini.

 

Klenteng Talang Cirebon

Kelenteng Talang – jl Talang Cirebon (sumber : Kisahku)

Cagar Budaya Kelenteng Talang ini berukuran kecil, sederhana dan  tak banyak ornamen. Kelenteng ini  sebelumnya bernama Sam Po Toa Lang, untuk mengenang tiga orang  utusan dinasti Ming yang pernah singgah di Cirebon ratusan tahun lalu.  Mereka adalah Laksamana Cheng Ho, Laksamana Kung Wu Ping, dan Laksamana Fa Wan.  Toa-Lang artinya adalah orang-orang besar.  Bangunan kelenteng ini dibangun sekitar tahun 1400an.

Di sini ada sebuah altar yang digunakan untuk memuja Tan Sam Cay, atau Haji Mohamad Sjafi’I. Beliau adalah  Menteri Keuangan Kesultanan Cirebon tahun 1569-1585. Gelarnya Aria Dipa Wira Cula dan besar  jasanya dalam membantu Sunan Gunung Jati dalam mengembangkan Islam ke Priangan Timur dan Garut

Konon Kelenteng Talang ini sebelumnya adalah sebuah masjid.   Namun Tan Sam Cay pada akhirnya kembali memeluk Konghucu, serta mengubah mesjid Talang menjadi sebuah kelenteng.

Klenteng Talang Cirebon

Gapura Kelenteng Talang Cirebon (Sumber : Kisahku )

Kelenteng Sam Po Kong Semarang

Empat tahun kemudian, 2015,  kami kembali ke Semarang dalam  perjalanan  Tour de Jawa Tengah. Akhirnya bisa melihat wajah baru  Kelenteng Sam Po Kong.  Dari hotel sempat tanya banyak orang  letak kelenteng ini, ternyata orang Semarang lebih familiar bila disebutkan Gedung Batu.

Wajah kompleks kelenteng ini sudah tak sama dengan foto-foto yang dulu pernah kulihat. Perubahan penampilan ini  terjadi menyambut 600 tahun pendaratan Laksamana Cheng Ho.

Laksamana Cheng Ho alias Zeng He  disebut sebagai salah satu orang penting dalam sejarah dunia. Rekaman tertulis yang dibuat selama pelayaran menunjukkan arah pelayaran, jarak di lautan, dan berbagai kota  pelabuhan yang disinggahi. Catatan ini  bisa mengubah peta navigasi pelayaran dunia.  Armada Laksamana Cheng Ho adalah yang terbesar sepanjang sejarah pelayaran menjelajah dunia. Armada terdiri dari ratusan kapal besar dan kecil yang memuat bahan makanan dan cadangan material kapal. Bahkan ukuran  kapalnya 5 kali lebih besar daripada kapal Columbus yang menemukan benua Amerika.

Laksamana Cheng HoLaksamana Cheng Ho (difoto di Museum Bank Indonesia)

Uniknya perjalanan armada dari kekaisaran Tiongkok ini bukan untuk menambah tanah jajahan seperti bangsa Eropa, tetapi katanya hanya untuk  show of force menunjukkan kebesaran kaisar Tiongkok. Armada ini datang ke Indonesia sebanyak 7 kali,  singgah di beberapa tempat dan pada akhirnya ikut menyebarkan budaya, kesenian dan agama Islam.

Siang itu cukup terik,  apalagi pantulan sinar matahari membuat paving block  di kompleks  Sam Po Kong terasa ikut memancarkan panas. Tapi namanya sudah datang dari jauh setelah sekian lama yah biar panas tetap dijabanin, diselingi dengan duduk berteduh di bawah pohon. Untuk mengurangi terpaan panas terpaksa pakai topi dan payung.

 

Kompleks Sam Po Kong ini terdiri dari beberapa  bangunan yang eksterior dan interior memakai langgam khas Tiongkok. Di bagian kanan gerbang masuk ada sebuah anjungan terbuka tempat  pengunjung bisa beristirahat. Di sebelah kiri gerbang ada deretan kelenteng yang terbuka hanya untuk pengunjung yang mau beribadah. Ada 4 buah kelenteng di sini yang bernama Kelenteng Dewa Bumi, Kelenteng Juru Mudi, Kelenteng Sam Po Tay Djien dan Kelenteng Kyai Jangkar.

Kelenteng Sam Po Kong Semarang

Bangunan-bangunan megah berwarna merah mencolok ini memang sangat menarik dan bisa jadi latar belakang foto yang cantik. Pengelola  menyediakan spot cantik yang ditandai dengan bentuk lingkaran di tanah. Nah ambil posisi di dalam lingkaran dan buat foto dari berbagai sudut. Layak pajang deh di akun Instagram he.. he.. Atau  bisa juga sewa kostum  tradisional Tiongkok  di sini.

Benda bersejarah yang ditinggalkan armada Sam Po Kong antara lain   sebuah piring yang bertuliskan ayat Kursi masih tersimpan di Keraton Kasepuhan Cirebon, lonceng Cakra Donya di Museum Banda Aceh

 

Lontong Cap Go Meh

Menutup sajian ini ada baiknya dengan menyantap Lontong Cap Go Meh, masakan hasil akulturasi kebudayaan Jawa dan Cina. Lontong Cap Go Meh biasa disajikan pada hari ke 15 (cap go meh) sebagai hari penutup rangkaian  Tahun Baru Imlek. Masakan ini berupa lontong sayur ditambah opor ayam, sambal dan taburan bubuk kedelai. Nikmat sekali, salah satu hidangan favoritku.

Jejak sejarah di dua kota yang terkait dengan perjalanan muhibah Laksamana Ceng Ho sangat menarik bukan? Jangan lupa sambangi Kelenteng Talang Cirebon dan Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong Semarang.

20 COMMENTS

  1. klenteng dengan warna merah ngejreng-nya ditambah ornamen2 khasnya jadi spot bagus untuk foto foto.
    Laksamana Cheng Ho jadi bagian kisah sejarah yang penting tentang bangsa Cina yang datang ke Indonesia.

  2. Saya baru pernah ke Kelenteng Sam Po Kong, he he…sudah lama sekali. Kayaknya harus berkunjung lagi nanti.
    Tapi baru kali ini dengar ttg kelenteng talang ini. Rupanya masih satu sejarah dg perjalanan Laksmana Cheng Ho ke Indonesia ya Mbak.

    • kelentengnya memang kecil banget mbak.., dan mungkin karena hanya persinggahan jadi nggak banyak dibicarakan

  3. Udah sering dengar nama Laksamana Cheng Ho, tapi baru tahu armadanya semegah itu setelah baca tulisan ini. Memang sesuai dengan tujuan “pamer kekuatan” klo armadanya kaya gitu hehe

    Wah, mampir ke Klenteng Sam Po Kong kayanya cocok klo agak pagian ya mbak?
    Tanah lapangnya luas2, dari foto aja keliatan panas klo udah siangan… 😀

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.