Mengunjungi Kampung Naga

44
261

Sesudah mengunjungi   Candi Cangkuang dan Kampung Pulo sesuai rencana kami akan ke Singaparna mendapati  seorang teman lama. Kami harus kembali ke arah Garut lagi, karena Singaparna itu terletak antara Garut dan Tasikmalaya, sedangkan Candi Cangkuang sebelum Garut. Sebelum memasuki kota Singaparna kami akan mampir di Kampung Naga, sebuah kampung yang unik budaya dan tradisinya, kampung dengan masyarakatnya yang masih memegang erat tradisi dan adat istiadat. Rencana ke Kampung Naga ini setelah dapat saran dari mbak Bintang Timur,.

Jalan ke daerah ini berada di dataran tinggi, meliuk meliku mengitari pegunungan, melewati lembah yang hijau dan asri. Di sepanjang jalan banyak  lapak kecil yang menjual buah-buahan dan nira. Mungkinkah daerah ini penghasil gula aren ? Jalan tak terlalu ramai kendaraan, sehingga walau medan jalan cukup membutuhkan konsentrasi mengemudi tapi bisa tetap santai. Jarak dari Garut ke Kampung Naga kira-kira 26 km.

Kami sampai di sebuah lahan parkir cukup luas, di sebelah kiri jalan raya. Tak terlihat perkampungan yang dituju, hanya ada rumah-rumah biasa. Di lahan parkir ini beberapa wisman sedang berteduh di warung, kulitnya yang putih terlihat sangat merah. Aduuh, pasti perjalanan ke Kampung Naga ini cukup menguras tenaga, bule yang tinggi besar dan kuat saja sampai kelelahan begitu…, jadi keder .

Di sini kami didatangi seorang pemuda yang menawarkan diri mengantar ke lokasi. Ok, karena ternyata dia adalah penduduk Kampung Naga, tentu banyak cerita yang bisa dibagi. Untuk masuk ke Kampung tak ada biaya apapun. Kami lalu dibawanya  ke arah kampung. Ternyata Kampung Naga terletak jauh di lembah. Dari ketinggian itu rumah-rumah  terlihat kecil rapat tetapi kesan tradisional langsung terlihat nyata. Kami tertegun di puncak tangga, menimbang-nimbang melanjutkan perjalan atau tidak. Anak-anak setuju untuk lanjut, ok mari kita turuni tangga berjumlah 439 itu,walau akhirnya anak-anak mengaku kaki masih gemetar.

Kampung Naga

Kampung Naga terletak di lembah subur, tepat di  pinggir sungai Ciwulan yang ada pintu air untuk irigasi sawah. Saat itu  sawah-sawah baru mulai masa tanam yang baru,  padi  yang baru ditanam itu masih pendek, sehingga tak ada hamparan sawah hijau seperti yang terlihat di banyak foto-foto  tentang Kampung Naga.  Di seberang sungai ada hutan larangan yang tabu dimasuki dan diolah, karena ada makam keramat , kata kang Huria si pemandu itu sebagai  bukti  penduduk Kampung Naga peduli lingkungan.

Rumah-rumah di Kampung Naga terletak di dalam pagar bambu. Tak ada larangan untuk membangun rumah baru asalkan masih ada lahan dan tetap di dalam pagar. Makanya jarak antar rumah itu cukup rapat. Di sini ada 113 bangunan,  108 KK dan jumlah jiwa 316.  Luas kampung ini 1,5 hektar dan hutan larangan 0,5 hektar. Yang tak boleh dibangun hanya di tempat terbuka di sekitar masjid, karena tempat itu adalah tempat berkumpulnya warga, baik warga kampung sendiri atau warga sekitar. Pagi hari (saat kami masih di Kampung Pulo dan Candi Cangkuang) ada acara  di mana waga luar kampung membawa nasi tumpeng untuk didoakan bersama dalam rangka menyambut bulan Ramadhan. Kami pun masih bertemu warga yang keluar kampung memikul keranjang dan rantang.

 

 

 

IMG_8023

Rumah di Kampung Naga adalah rumah panggung, terbuat dari kayu dan bambu.  Atapnya terbuat dari ijuk dan daun tepus (tanaman sebangsa lengkuas, tetapi daunnya lebih besar). Atap seperti itu katanya bisa bertahan 20 tahun.  Tiang rumah panggung ini hanya diletakkan begitu saja di atas batu.  Sebetulnya inilah bentuk dan bahan rumah yang paling cocok  untuk Indonesia yang terletak di daerah rawan bencana, di daerah ring of fire. Bila ada gempa besar rumah hanya akan bergoyang mengikuti goyangan gempa,  dan bila rubuh pun materialnya yang ringan tidak akan  menimbulkan banyak korban. Kearifan lokal yang masih dipegang erat ini patut diacungi jempol.

 

IMG_8018

Hal yang unik  lainnya di rumah penduduk adalah bentuk pintunya. Tiap rumah itu punya dua pintu dari bahan berbeda. Pintu yang terbuat dari papan adalah pintu masuk ke ruang utama, pintu dengan bahan papan dan bambu untuk masuk ke dapur. Lantainya pun berbeda, lantai dapur dari bambu,  lantai ruang utama dari papan. Tetapi kalau kita lihat di dalam rumah di antara ruang ini sebetulnya tak ada pembatas, hanya jelas terlihat pembedaan fungsi. Prinsip yang biasanya dipakai desainer interior untuk rumah modern.  Selain itu di Kampung Naga sumur hanya ada di dekat masjid, kamar mandi dan sumur lainnya ada di luar pagar.

IMG_8019

Tempat yang disakralkan di sini antara lain bekas lumbung, bekas sumur yang dahulu hancur ketika Kampung Naga  dibakar oleh DI/TII Kartosuwiryo. Ada Bhumi  Ageng, bangunan keramat yang tak bisa difoto kalau pakai sandal. Itu jokenya si pemandu,kukira foto di sana harus lepas sandal ternyata foto ya harus pakai kamera he..he..

Aku cukup kaget ketika melihat ada panel surya di Kampung Naga. Berbagai tulisan  yang pernah kubaca katanya desa ini tak mau kena pengaruh modern. Kata kang Huria, panel surya itu untuk  mencharge aki supaya bisa nonton TV, cukup yang hitam putih saja, daya listriknya tak kuat untuk menyalakan tv warna. Perhatikan saja di foto paling atas, banyak antena tv bukan ? Anak-anak lelaki pun suka menonton siaran bola, beberapa anak pakai seragam birunya Chelsea. Jadi, sudahkah mereka terima juga arus modernisasi?

 

IMG_8021

 

Penduduk Kampung Naga adalah petani, tetapi juga berjualan souvenir, makanan dan ,minuman di depan rumahnya. Mereka juga menjual gula aren yang dibuat sendiri. Penduduk juga cukup ramah ketika disapa, bahkan si pemandu menawarkan masuk ke rumahnya dan makan nasi tumpeng, tetapi tak kami iakan karena kami sudah berjanji akan makan siang di Singaparna.

Perjalanan kembali ke tempat parkir mobil adalah usaha yang berat harus mendaki tangga terjal lagi. Kami harus beberapa kali berhenti istirahat di warung ( jadi mirip rest area di jalan tol he..he..) untuk mengatur nafas. Bahkan warga Kampung Naga pun melakukan hal yang sama, orang Kampung Naga juga bisa capai. Timbul pertanyaan dari kami, bagaimana anak-anak ke sekolah, bagaimana bila ada orang sakit ? Sekolah berada di luar kampung, anak-anak ya tetap saja pergi pulang sekolah setiap harinya. Untuk orang sakit memang cukup sulit membawanya ke atas, tetapi katanya ada juga bidan yang bersedia  datang bila dipanggil. Kami tinggalkan Kampung Naga dengan kesan mendalam, semoga tetap lestari.

44 COMMENTS

  1. luar biasa ya kak, semoga kampung naga bisa bertahan lestari.. harapan agar wisatawan yang datang ke sana pun bisa menjaga ya.. jangan menganggu kehidupan warga.

    • iya makanya aku mikir apa ya manfaat bagi penduduk dikunjungi orang banyak spt itu…, manfaat ekonomis keliatannya juga nggak terlalu banyak

  2. Amiiiin. Semoga tetap lestari Mba Monda. Kenapa tidak diadopsi kearifan lokal ini untuk desain rumah di daerah rawan bencana gemla ya Mba? Kemudian dimodifikasi dengan mengutamakan keamanan dan kenyamanan tinggal. Keren kampung naganya. Makasih ya Mba Monda jadi tahu tentang kampung naga.

    • sebetulnya di daerah lain juga punya prinsipnya masing, rumah2 tradisional kita semuanya pakai prinsip ini

      tp aku yg bodoh ini pernah memandang rendah rumah orang di Bengkulu sana yg menyemen dinding anyaman bambunya .. , setelah tau itu prinsip antisipasi gempa akunya jadi malu
      kita nggak boleh melihat sesuatu dari sudut pandang kita saja

  3. Model rumahnya spt di kampung nenek ku di Sumut. Enak sih tinggal di pedesaan, udaranya bersih. Cuma klo susah turut, atau ke kota repot juga ya, nunggu perawat / dokter yg bersedia datang :).

    • iya Nel rumah Batak juga punya prinsip sama
      rumah opung di kampung dulu juga tiangnya hanya bertumpu pada sebuah batu besar, nggak ditancapkan ke tanah

  4. Mbak Monda terima kasih telah berbagi. kearifan lokal, penataan manusia sebagai bagian dari alam dan dikaruniai akal budi mengelola alam tertata di konsep ini. Salam

    • sama2 mbak ,
      kunjungan seperti ini bikin kita belajar dan mawas diri, nenek moyang kita itu pintar dan tau beradaptasi dengan lingkungan ya

  5. Anak saya yang sulung dan tengah …
    pernah ke kampung ini …

    Saya sendiri belum pernah kesana …
    penasaran seperti apa …

    Membaca penuturan Kak Monda … ternyata TV sudah ada … Kaos Bola pun sudah marak … artinya mereka juga “melihat” dunia luar

    Salam saya Kak

  6. nggak tau deh, kayaknya nggak ada
    apalagi kl di dalam kampung ya cuma jalan sempit aja, kendaraan juga nggak bisa naik turun tangga ke kampung kan

  7. Mbak Mondaa…makasih ya nama blog saya sudah ditulis dan di-link pula…saya juga seneng mbak Monda terkesan dengan Kampung Naga, biarpun capeknya naik tangga itu pasti susah hilang ya!

    Saya baru tau lo kalo disana ada banyak antena televisi, waktu saya kesana, antena-antena ini rupanya luput dari perhatian saya…hehe, konsentrasi ke perjalanan pulang yang harus naik tangga beratus-ratus itu soalnya 😀

    • sama2 mbak…, kl nggak karena mbak aku mungkin nggak sampai ke sana, lupa letaknya he…he…
      antena TV ini baru kuperhatiin juga setelah lihat di foto mbak …., betul mbak waktu di kampung itu banyak banget yg diperhatikan sih…

  8. ini yang aku pengen sejak lama
    di kalimantan banyak sih perkampungan kaya gitu
    tapi karena kampung naga itu di jawa makanya terkesan unik

    • nah ayo dong cerita ttg kampung di sana dgn rumah panjangnya,
      belum pernah ke sana padahal dulu lama tinggal di Kaltim

      yg buat Kampung Naga ini unik karena mampu bertahan dgn sikap tradisionalnya padahal dekat banget dengan dunia luar, aksesnya gampang di tepi jalan raya yang ramai, mungkin nambah uniknya lagi karena cara ibadahnya, muslim yg masih terpengaruh adat lama

  9. Waah.. liat thumbnail fotonya aku kira di Baduy mak. di Baduy juga gitu, menjaga tradisi leluhur dan membatasi diri dari peradaban modern.

  10. Langsung berasa pegel kaki saya Bu hehe
    Saya membayangkan lingkungan yg asri dan udara yg bersih di sana
    Semoga masih bisa terus dipertahankan ya 🙂

  11. Gak bisa terbayangkan, melalui 439 anak tangga. Saya yang naik ke tahura beberapa anak tangga saja ngos2an tak karuan. 🙂

    Rumahnya benar2 masih tradisional, terbuat dari kayu. Kalau2 sering musim hujan, kayunya mudah tepuh ya, Bund.

    Pingin berwisata ke kampung Naga ini.

  12. Kepingin rasanya bisa jalan2 ke lokasi seperti ini agar pengetahuan dan kecintaan kepada tanah air bertambah.
    Terima kasih atas reportase perjalanan yang ciamik
    Salam hangat dari Surabaya

    • ya pakde kalau ke Cimahi lagi mungkin bisa ajak rombongan Bandung jalan ke sini, nggak jauh kok di jalannya

  13. Mendengar Kampung Naga ini dulu saya agak malu ketika awal-awal tahu. Kawan saya yang arsitek waktu itu konon mau studi ke kampung naga di Tasikmalaya. Saya kaget kok ada kampung naga wkwkwk. Padahal saya dari Ciamis, tetanggaan dengan Tasik.

    Kehidupan tradisional seperti ini, untuk daerah Jawa saya baru denger hanya di Jawa Barat dan Banten, seperti Kampug Naga, Kampung Pulo dan Baduy, entah daerah lainnya di luar Jabar, barang kali ada yang tahu ?

    Garut – Tasik jalur nan indah. Sayang di Tasik beberapa gunung banyak yang dibongkar diambil batu dan pasirnya .. padahal dulu asri banget lihatnya.

    Trims Bun.

    • temannya mau belajar arsitektur tradisional ya kang..
      kupikir tadinya jalan ke kampung2 seperti ini pasti terpencil banget,
      ternyata aksesnya sangat gampang, salut mereka bisa bertahan dengan tradisinya

      kalau begitu tinggal jalan ke Baduy aja deh..

    • iya agak susah sekarang lihat rumah panggung, karena biaya renovasi rumah kayu itu ternyata lebih mahal daripada rumah bata

  14. Assalaamu’alaikum wr.wb, mbak Monda….

    Pemandangan kampung yang masih kekal keasliannya di tengah pembangunan dunia yang sudah banyak memusnahkan kelestarian alam semata-mata demi kemajuan.

    pasti penduduk kampungnya mempunyai hubungan keluarga yang sangat rapat ya seperti rumah-rumah mereka yang sebegitu rapat dan indah.

    Selamat menjalani puasa dari Sarikei, Sarawak. 😀

  15. Terpencil sekali ya bunda, pu baru tau kampung naga ini. Mungkin karena itu pula mereka belum mengenakan biaya untuk masuk ke kampung mereka, budaya dan kearifan lokal yang luar biasa.

    • nggak terpencil Pu …, dekat dari jalan antar kota, hanya ada di lembah
      pakaian mereka dan penampilannya sama aja dengan orang2 awam lainnya,

  16. Naik tangga? Banyak lagi… wis… aku nyerah aja deh mbak… hehehe.
    Aku yakin baru beberapa langkah saja aku sudah ngos-ngosan *efek gak pernah olahraga*

  17. Unik dan Indonesia banget Tante kampung Naga ini.. juga ramah lingkungan..

    semoga ke depan enggak ada kepentingan-kepentingan tertentu yang mencoba merubah sisi unik dan orisinalitas kampung ini

  18. Jalan-jalan yang seruh dan memberikan pengalaman berbeda….
    Bisa ikut merasakan originalitas sebuah kebudayaan.

  19. Seperti di daerah Nusa Tenggara Barat suasananya. Di saat pagi hari kita bisa menghidup udara pedesaan yang khas harum asap dari tungku perapian yang sedang di buat merebus air atau pun memasak di pagi hari. Nuansa yang penuh dengan kedamaian.

    Salam wisata

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.