Kisah Buah Matoa Rasa Duren

46
1366
Buah Matoa Papua

 

Di kompleks perumahanku masih punya kebiasaan saling berkirim makanan antar tetangga.  Entah berapa kali dapat masakan hasil olahan  dapur ibu sebelah.  Bila ada tetangga  pulang mudik atau tugas ke luar kota pasti tak lama kemudian pintu pagar diketuk. Anak tetangga kirim hantaran ke rumah. Alhamdulillah punya banyak jiran tetangga baik hati.

Hampir setahun ini aktivitas pagi hariku diawali dengan  sarapan dengan buah-buahan.  Hampir semua jenis buah aku suka. Makanya bahagia  banget  kalau bisa dapat buah enak. Apalagi sudahlah enak, gratis pula ha…. ha….

Salah satu tetangga pernah bawakan buah nenas Palembang. Sebetulnya nenas bukan buah favorit, jadi aku buat smoothie saja, dicampur dengan buah naga merah, eh kok rasanya jadi nikmat banget he..he… Malah ketagihan.

Di awal bulan Desember lalu (foto di atas itu diunggah tanggal 2 ) dapat kiriman matoa (Pometia pinnata)  dari tetangga yang rumahnya di ujung utara.  Tak banyak sih, hanya ada sekantong kecil. Kurang lebih ada 15 butir matoa.

Ada dua macam matoanya. Keduanya punya rasa berbeda. Yang satu kulitnya berwarna coklat, bentuknya agak oval dan rasa buahnya mirip dengan lengkeng. Untuk jenis yang ini sudah sering jumpa di pasar atau toko buah di ibukota.

Yang menakjubkan jenis lainnya yang berwarna merah. Ukurannya lebih membulat. Rasa buahnya mirip  dengan durian walau aromanya tak  sama tajamnya.  Nikmat banget, apalagi matangnya optimal. Jadi tekstur buah terasa lembut.  Buah matoa jenis yang ini baru pertama kali kami makan.

 

Mendapat buah yang lezat  naluri  menanam suamiku pun timbul. Dia menyiapkan polybag dan  menanam beberapa butir biji matoa merah.  Alhamdulillah, matoa merah bisa tumbuh, tetapi baru satu saja. Tanggal 30 Desember tingginya sudah 10 cm. Berharap matoa ini bisa tambah subur. Mudah-mudahan sifat indukannya bisa menurun walau ditanam jauh dari tempat asalnya.

Ini bukan kali  pertama  suami menanam matoa. Di rumah sudah ada pohon matoa setinggi tiga meter. Anakannya diberi oleh tetangga di sebelah timur. Sebutlah namany A.  Beliau membibit sendiri.  Ada lagi  satu batang  anakan yang masih setinggi kira-kira setengah meter. Asalnya dari buah matoa yang dibeli di toko buah. Keduanya jenis berkulit coklat.

Cerita tentang matoa jadi ingat kejadian lucu waktu pertama kali kenal matoa. Aku tak percaya ketika ibu A menyebut  ada pohon matoa di halaman rumahnya. Pohon itu tinggi besar berdaun lebar dengan guratan tulang daun yang sangat jelas, tetapi berbuah kecil. Setahuku matoa itu buah langka  dari Papua.

Rasa penasaran membuatku cari informasi. Dan  setelah membandingkan gambar di Wikipedia akhirnya aku mengakui kebenaran cerita ibu A.

Di Papua, awalnya pohon matoa  tumbuh liar.  Kini menjadi semakin naik  pamornya setelah beberapa tahun lalu   (mantan) presiden Megawati  Soekarnoputri melakukan  penanaman berbagai jenis pohon asli Indonesia di kawasan Gelora Bung Karno Jakarta. Pohon-pohon  seperti cempaka Aceh, meranti Kalimantan dan matoa Papua dicanangkan sebagai pohon lestari,

Masyarakat setempat bangga menyebut buah matoa sebagai buah khas  propinsi Papua. Pohon ini berbunga dan berbuah  sepanjang tahun. Makanya di pasar tradisionalnya buah matoa banyak dijual. Di Papua, pohon matoa  tumbuh  di seluruh wilayah  dan bisa  berkembang sampai dengan diameter pelukan tiga orang dewasa.  Kayunya bisa dibuat mebel atau kusen rumah. Ah, masih cukup lama baru bisa menikmati buah matoa dari  pohon sendiri.

 

“Tulisan ini diikutkan dalam Hani Widiatmoko First Giveaway Kisah Foto Instagramku”

46 COMMENTS

  1. mba Monda… mau dong bibitnya… di rumah pernah nanam tapi ga berhasil… au au auuu suka… dulu waktu di pekanbaru banyak kantor pemerintah menanam matoa. jadi kalau musim buah bolehlah colek colek security atau petugas kebersihan untuk minta satu atau dua. hihiiii.

    • aku pengenlah punya pengalaman petik matoa
      di kampus UI Depok juga pohon matoa berjajar banyak..

      nanti ya aku bilangin suami supaya membibitkan lagi

  2. Saya belum pernah mencicipi buah matoa. Pas ke Papua dulu nggak nemu. Dikantor ada satu pohonnya, tapi nggak pernah kebagian buahnya.

    • dulu juga waktu tinggal di Papua nggak pernah perhatikan ada matoa mbak..
      sekarang jadi doyan,
      asalkan pilih yang matangnya pas, pasti enak

  3. Saya masih penasaran dengan rasa buah matoa. Sempat ke pohonnya yang sudah berbuah matang di Tenggarong, Kaltim. Mau beli yang punya gak ada di ladang.
    Mudah-mudahan dapat juga mencicipinya langsung di Papua, aamiin.

  4. Saya jadi penasaran sama matoa. Biarpun saya pedagang buah, di daerah saya belum pernah dengar tentang matoa.

    Itu matoa gede milik tetangga apa udah berbuah? Biasanya klo pohon ditanam di luar daerah aslinya sih hampir pasti sulit berbuah.

    • pohon tetangga itu udah berbuah,
      itu yang buat aku penasaran karena liat buahnya yang unik
      dan kemudian dia tanam dari bijinya dan kami dikasih anakannya, itu yang sudah setinggi 3 meter

    • nanti kalau mudik lagi kudu nyari ya Feb…..
      udah banyak beredar kok di luar Papua
      iya… suamiku itu suka banget berkebun, sayang halaman cuma sepetak..he.. he…

  5. Woh barutau kalau dari Papua. Soalnya di halaman kantor walikota Pekanbaru ada. Tapi emang sdh curiga sih sama namanya hehehee.

  6. Di kebun milik mertua aku, ada pohon matoa, tapi aku kurang tahu sama atau enggak sama milik mba Monda.
    Sayangnya kami nyaris nggak pernah icip sekalipun buahnya banyak, kalah sama orang lewat, hahaha

    • ha.. ha… iya bener, resiko pohonnya sampai ke jalan ya..
      itung2 aja sedekaj buat orang lewat mbak

  7. Pertama dengar nama buah ini dari saudara waktu mudik th. 2011 yll, rupaya mulai banyak juga ditanam didaerah Solo. Aneh juga buah jenis sama tapi lain rasa. Dibandingkan dengan buah-buahan asal Eropa (yg. membosankan), buah tropis tak ada yang nandingin karena banyak sekali macam ragam dan rasanya.

      • Membosankan dalam arti tak banyak variasi rasa, aroma dan jenisnya. Paling-paling jenis apple, buah musiman berbiji keras (stone fruits) spt apricot, peach , nectarine dan plum yang rasanya ada kemiripan satu sama lain. Terus ada macam-macam buah pear, anggur dan juga cherry. Dari semua yang paling saya sukai hanya cherry dan anggur.

        • aku pernah pengen beli nectarine di toko buah mbak,
          mahalnya nggak jadi deh, penasaran dengan rasanya, mau beli satu aja kok malu

  8. Hai mbak Monda. Suami pernah nyoba menanam, tapi ga numbuh sih. Mungkin kurang cocok untuk Bandung. Itu juga buahnya beli di supermarket. Langka nih, asal Papua, kata suami. Saya kurang ngerti tentang tanaman…hehe…Salam kenal…Trims ya sudah ikut ga saya.

  9. Aku lupa sudah pernah ngerasain buah ini apa belum yach? Di kebun teman ku di Bogor pohon matoa beberapa kali berbuah tapi selalu keduluan kelelawar hikksss….

  10. Pohonnya tinggi menjulang Mbak…
    Temanku juga ada yang punya pohonnya. Kalau lagi panen suka bawa ke Kantor. Kalau kata aku rasanya rame. Mirip kelapa, rasanya leci dan durian..Enyaaaak banget

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.