Kesasar Membawa Nikmat, Kolak Duren di Hutan Jati

44
6973
warung kolak duren, hutan jati Boja

Kesasar Membawa Nikmat?  Kok bisa  nyasar ?  Bukannya kesasar itu sering membuat susah? Walau sering raun-raun tetapi kejadian kesasar masih tetap ada, he..he…, masih untunglah kesasar masih di tempat ramai, nggak kesasar di hutan belantara  atau kesasar ke alam gaib☺. Jangan sedih, pokoknya selama masih ada orang yang bisa ditanyai, amanlah itu.

Bahkan kesasar itu seperti jadi kenikmatan tersendiri bila pada akhirnya berhasil keluar dari kebingungan dan bertemu tujuan. Spontanitas juga salah satu unsur unik dan berkesannya sebuah perjalanan. Makanya ini mau cerita dua hal itu,  kesasar  dan spontanitas.

Setelah menginap di Semarang kami  menuju Pekalongan. Ketika itu  sampai di sebuah persimpangan di sekitar Kendal, Jawa Tengah. Terlihat ada papan penunjuk arah. Belok kiri mengarah ke   Kaliwungu. Pasukan raun langsung berembug sebentar. Akhirnya  semua setuju membelokkan kendaraan ke sana.

Kata Kaliwungu itu familiar di telinga karena sering disebut oleh bibi art.  Tiba-tiba saja sepakat ambil keputusan ingin mampir ke rumahnya bibi. Keputusan yang spontan saja, nggak mikir rincian perjalanan  nanti seperti apa. Bibinya padahal  mah  sedang jaga rumah kami.  Informasi dari bibi, katanya  letak desanya sudah dekat dari simpang itu, kurang lebih setengah jam lagi.

hutan jati Jawa Tengah
Barisan pohon jati yang daun-daunnya mulai meranggas

Patokan kami hanya berdasar pada  percakapan telepon dengan bibi.  Tetapi  akhirnya tetap bertanya kepada  penduduk setempat serta petunjuk arah di hp. Dengan percaya diri kami melanjutkan perjalanan mengarah ke tujuan. Mula-mula sih jalan melewati  wilayah yang  padat penduduk, lama kelamaan keadaan berubah melewati daerah yang agak sepi perumahan tetapi cukup ramai kendaraan. Kami juga melewati daerah hijau dengan pepohonan tinggi besar, melalui hutan lindung dan perkebunan jati.  Wah…kagum deh dengan pemandangannya.

Barisan pohon jati tinggi dengan daun-daunnya yang lebar di kiri kanan jalan raya dua lajur itu terkesan  seolah-olah kita sedang berjalan di  koridor hijau. Pepohonan jati itu  diselingi dengan pohon-pohon  durian.  Herannya kok bibi nggak cerita tentang ini sebelumnya.

Permukaan jalan sangat bagus untuk ukuran pedesaan ataupun kota kecil, jalan sudah dibeton atau aspal  licin. Sudah berjalan sedemikian jauh mengapa kok nggak lihat persimpangan yang disebut si bibi ya. Lalu  bertanya kepada  orang-orang di sekitar perumahan perkebunan yang bergaya rumah kebun jaman Belanda.  Dan sadarlah ternyata kami sudah lewat terlalu jauh. Desa bibi lokasinya sebelum hutan lindung. Pantas saja  bibi tak cerita soal hutan jati.

Hadeeeh……., akhirnya balik arah.  Supaya mengurangi kekecewaan  mampir dulu beristirahat di warung pinggir jalan. Spanduk nama warung yang menyediakan kolak duren itu tak mampu dilawan pesonanya. Maka duduklah kami di bangku kayu panjang menikmati kolak duren dalam mangkok saji .

warung kolak duren, hutan jati  Boja

Taraaa… inilah penampakan warung yang terletak di tepi  jalan. Warung yang sederhana saja sebetulnya, dan kolaknya juga terlalu manis bagi lidah kami, tapi namanya penasaran kan. Lebih baik  menyesal membeli daripada menyesal tidak membeli.

Warung kecil ini  ada di bawah naungan pohon-pohon jati yang sebagian kering akibat musim kemarau panjang yang lalu itu.  Daun jati yang lebar itu sebagian sudah rontok ke tanah.  Secara alamiah memang  pohon jati akan menggugurkan daun pada saat kekurangan air di musim kemarau seperti ini . Pengguguran daun akan mengurangi penguapan air sehingga pohon jati masih dapat bertahan hidup.

Jati (Tectona Grandis L), sebagai  salah satu tanaman keras yang mempunyai nilai  ekonomis tinggi. Kayu jati adalah kayu  terbaik untuk industri furnitur  ataupun bahan bangunan rumah.  Daun jati  yang lebar dan rimbun digunakan sebagai pembungkus makanan, misalnya untuk membungkus Nasi Jamblang Cirebon.  Di industri batik daun  jati muda dimanfaatkan  sebagai pewarna alami batik. Daun jati menghasilkan warna merah kecoklatan.

Jembatan Desa

Perjalanan dilanjutkan, memasuki wilayah yang mulai agak sepi tetapi tetap jalannya mulus. Hebat ya di pelosok sampai ke desa-desa yang jauh ini saja jalannya licin, jadi tak terasa lamanya di jalan. Iya gara-gara kesasar waktu tempuh ke rumah bibi hampir satu jam lebih. Tapi jangan heran rumah-rumah di desa tetangga bibi itu mentereng banget, rumah gedung dengan gaya ibukota. Kata bibi pemiliknya bekerja di luar negeri.

kesasar membawa nikmat, pemandangan senja di desa

Desa tempat tinggal bibi terletak paling ujung, di wilayah perbatasan dengan hutan jati milik Perhutani. Sebagian rumah di sini memakai bahan kayu jati, termasuk rumah bibi. Keren banget ya.

Kami disambut keluarganya bibi yang antusias dan kaget dengan kunjungan kami. Mumpung dalam perjalanan pulang dari Semarang disempatkan saja sekalian silaturahmi, kalau direncanakan malah nanti susah cari waktu yang pas.

Kami melewati senja  yang indah itu di sana, memandangi sinar merah dari bola matahari yang berkilauan menimpa sawah hijau.  Anak-anak takjub melihat pemandangan dari sebuah sudut di desa ini. Mereka  langsung telpon bibi berkomentar  “kampung bibi keren”. Menghabiskan magrib di desa kemudian kami  bergegas melanjutkan perjalanan ke Pekalongan dengan diantarkan oleh putra si bibi sampai di jalan raya Boja.  Untunglah diantar, gagap juga kalau harus melewati jalan itu lagi di malam hari.

44 COMMENTS

  1. Spontanitas yang membahagiakan banyak pihak loh mbak. Kelg Bibi, penjual kolak duren maupun kelg raun. Menunggu yang nyasar ke Salatiga ah….

  2. Jadi ngences Mbak Monda membayangkan kolak durennya. Huehehhew. Itu bener deh Mbak jalannya bisa mulus gitu gimana caranya ya mereka maintainnya? Kalo pas ke daerah suka nemu jalanannya jelek dan ga nyaman buat dilewatin.
    Kalo kesasar saya sendiri suka banget menikmati lihat daerah barunya Mbak. Asalkan ya itu tadi, bukan nyasar di tengah hutan dan masih dapet sinyal gps. Hahahaha.

  3. Waduh kolak duren, apalagi kalau didesa gitu pasti durennya lebih legit kan yach? ngiler bayangin duren. padahal baru kemaren puas makan duren hasil kebun teman, hanya karena musim hujan rasanya nga semanis biasanya.

    • kolaknya terlalu coklat mbak, dan hasil fotonya jelek banget he.. he..
      ntar malah ilfeel he.. he..

  4. Jadi penasaran sama rasanya. Kolak durennya pakai ketan kah mbak? biasanya ada yang pakai ketan terus ada juga yang dicampur sama pisang 😀

    • kolaknya dicampur pisang mbak…
      iya ada variasi yang pakai ketan ya.., tapi biasanya kinca duren, yang lebih kental daripada kolak

  5. Saya jadi penasaran dengan rasa kolak duren mbak. Seperti apa ya rasanya.

    By the way kampung bibi indah banget ya. Melewati hutan jati dengan daun daun yang meranggas. Asyik buat foto-foto

  6. Apa jadinya aku ya, kalau mengalami nasib serupa ama mb Monda, kesasar ke tempat kolak duren. Soalnya aku engga doyan duren. Wkwkwk…
    Seru juga berkunjung ke desanya Bibi, padahal Bibi lagi jaga rumah. Untuk ada telepon ya, jadi Bibi bisa kasih tahu arah ke rumahnya.

    • nah, pasti cari sasaran lain mbak.. mungkin dapat yang lebih enak daripada kolak duren he.. he..

  7. Ngeri2 sedap ya kalau kita kesasar dan tau2 jalannya eh kok sepiiii mirip kuburan wkwkwkwk 🙂 Alhamdulillaah sasaran empuknya dapat itu loh makan durian enak yummy! Akhirnya bisa sampai juga di rumah sang bibi. Ga bisa pake gugel apa ya? Terkadang mbah ga paham jalan buntu dll. Tetap kudu bertanya dengan mulut hihihi 🙂

  8. Sering ke arah Ngawi dari Surabaya, saya jadi sering melewati hutan jati. Tapi karena wkatunya slelau ga pas dan diburu waktu, jadi ga pernah berhenti untuk menikmati keasriannya huhu 🙁

    Wkwkwkw bener banget mbak. Meski pernah juga ga cocok di lidah, tapi seneng aja memutuskan untuk membeli dan mencicipi makanan di pinggir jalan, daripada kebawa penasaran!

  9. Sayangnya, aku bukan duren holic. Walaupun udah jadi kolak atau ice cream, masih aja mual kalo duren. Hiks. Padahal ini raja buah yang katanya lezat banget yaaaa

  10. Pembangunan di Jawa Tengah dan Yogyakarta memang sudah bagus, mbak. Jalan beraspal yang mulus sudah menjamah ke desa-desa pelosok. Silaturahmi dengan warga desa memang seringkali terasa nikmat ya. Nggak cuma disambut dengan keramahan mereka, namun juga dengan suasana yang tenang dan pemandangan yang indah. Apalagi mood sudah kembali diisi dengan kolak duren.

  11. Kalau jalannya sama suami, saya nyantai aja meskipun kesasar. Makanya gak berani jalan sendiri kalau saya hehehe.

    Kadang-kadang makanan di daerah Jawa tengah maupun Timur suka ada gak cocoknya ma lidah saya karena kemanisan. Biasanya saya imbangi dengan sambal kalau untuk makanan. Kalau minuman, saya minta kurangi gulanya, deh 😀

    • betul mbak, itu makanya nyampe Pekalongan malam banget, apalagi belum makan…
      nyari tempat makan udah pada tutup he.. he…, akhirnya dapat juga sih

  12. Kalau liat pemandangan desa dan cerita mbak rasanya jadi pengen berlibur sejenak ke daerah pedesaan hehehe. Damai banget dan pastinya masih fresh ya, dibanding sama kota-kota yang padat penduduk dan penuh asap polusi kendaraan. Apalagi kalau kayak mbak yang kesasar malah nemu Kolak Duren hehehe.

  13. Penasaran kolak durennya pasti lezaat, pemandangan hutan jati memang menakjubkan, aku pernah berhenti lama di area hutan karena pengen pepotoan hihi..padahal seram juga karena sepi..

  14. Fenomena kesasar emang sering terjadi bagi yang baru pertama kali ke daerah tersebut. Eh ujung-ujungnya nemu makanan spesial.. Hehe

    • ha.. h a.. iya, hampir selalu nyasar memang kalau datang ke tempat baru, bisa aja cuma kelewatan dikit atau akhirnya malah batal datang ke tempat yang direncanakan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.