Kesasar Membawa Nikmat, Kolak Duren di Tengah Hutan Jati

17
1026
kolak duren

Kesasar? Nyasar ? Walau sering raun-raun tetapi kejadian kesasar masih tetap ada, he..he…, masih untunglah kesasar masih di tempat ramai, nggak kesasar di hutan belantara  atau kesasar ke alam gaib☺. Jangan sedih, pokoknya selama masih ada orang yang bisa ditanyai, amanlah itu. Bahkan kesasar itu seperti jadi kenikmatan tersendiri bila pada akhirnya berhasil keluar dari kebingungan dan bertemu tujuan. Spontanitas juga salah satu unsur unik dan berkesannya sebuah perjalanan. Makanya ini mau cerita dua hal itu,  kesasar dan spontanitas.

Ketika sampai di sebuah persimpangan di sekitar Kendal  dan melihat petunjuk arah ke  Kaliwungu, pasukan raun langsung berembug sebentar dan setuju membelokkan kendaraan ke sana. Kata Kaliwungu itu familiar di telinga karena sering disebut oleh bibi art.  Tiba-tiba saja sepakat ambil keputusan ingin mampir ke rumahnya bibi. Keputusan yang spontan saja, nggak mikir ditel perjalanan seperti apa. Bibinya padahal  mah  sedang jaga rumah kami.  Informasi dari bibi, katanya  letak desanya sudah dekat dari simpang itu, kurang lebih setengah jam lagi.

senja di desa

Berbekal percakapan telepon dengan bibi dan tetap bertanya kepada  penduduk setempat dan petunjuk arah di hp, dengan percaya diri kami melanjutkan perjalanan mengarah ke tujuan. Mula-mula sih jalan melewati  wilayah yang  padat penduduk, lama kelamaan keadaan berubah melewati daerah yang agak sepi perumahan tetapi cukup ramai kendaraan, melewati daerah hijau dengan pepohonan tinggi besar, melalui hutan lindung dan perkebunan jati.  Wah…kagum deh dengan pemandangannya. Barisan pohon jati tinggi dengan daun-daunnya yang lebar di kiri kanan jalan raya dua lajur itu terkesan  seolah-olah kita sedang berjalan di  koridor hijau. Pepohonan jati itu  diselingi dengan pohon-pohon  durian.    Herannya kok bibi nggak cerita tentang ini sebelumnya.

Permukaan jalan sangat bagus untuk ukuran pedesaan ataupun kota kecil, jalan sudah dibeton atau aspal  licin. Sudah berjalan sedemikian jauh mengapa kok nggak lihat persimpangan yang disebut si bibi ya. Lalu  bertanya kepada  orang-orang di sekitar perumahan perkebunan yang bergaya rumah kebun jaman Belanda dan sadarlah ternyata kami sudah lewat terlalu jauh. Desa bibi lokasinya sebelum hutan lindung, pantas bibi tak cerita soal hutan jati.

Hadeeeh……., akhirnya supaya mengurangi kekecewaan  mampir dulu beristirahat di warung pinggir jalan. Spanduk nama warung yang menyediakan kolak duren itu tak mampu dilawan pesonanya. Maka duduklah kami di bangku kayu panjang menikmati kolak duren dalam mangkok saji  …..taraaa… inilah penampakan warung yang terletak di tepi  jalan di bawah naungan pohon-pohon jati yang sebagian kering akibat musim kemarau panjang yang lalu itu. Warung yang sederhana saja sebetulnya, dan kolaknya juga terlalu manis bagi lidah kami, tapi namanya penasaran kan. Lebih baik  menyesal membeli daripada menyesal tidak membeli.

Perjalanan dilanjutkan, memasuki wilayah yang mulai agak sepi tetapi tetap jalannya mulus. Hebat ya di pelosok sampai ke desa-desa yang jauh ini saja jalannya licin, jadi tak terasa lamanya di jalan. Iya gara-gara kesasar waktu tempuh ke rumah bibi hampir satu jam lebih. Tapi jangan heran rumah-rumah di desa tetangga bibi itu mentereng banget, rumah gedung dengan gaya ibukota. Kata bibi pemiliknya bekerja di luar negeri.

Jembatan Desa

Desa tempat tinggal bibi terletak paling ujung, di wilayah perbatasan dengan hutan jati milik Perhutani. Kami disambut keluarganya bibi yang antusias dan kaget dengan kunjungan kami. Mumpung dalam perjalanan pulang dari Semarang disempatkan saja sekalian silaturahmi, kalau direncanakan malah nanti susah cari waktu yang pas. Kami melewati senja  yang indah itu di sana, memandangi sinar merah dari bola matahari yang berkilauan menimpa sawah hijau.  Anak-anak takjub melihat pemandangan ini  dan langsung telpon bibi berkomentar  “kampung bibi keren”. Menghabiskan magrib di desa kemudian kami  bergegas melanjutkan perjalanan ke Pekalongan dengan diantarkan oleh putra si bibi sampai di jalan raya, untunglah diantar, gagap juga kalau harus melewati jalan itu lagi di malam hari.

 

 

17 COMMENTS

  1. Spontanitas yang membahagiakan banyak pihak loh mbak. Kelg Bibi, penjual kolak duren maupun kelg raun. Menunggu yang nyasar ke Salatiga ah….

  2. Jadi ngences Mbak Monda membayangkan kolak durennya. Huehehhew. Itu bener deh Mbak jalannya bisa mulus gitu gimana caranya ya mereka maintainnya? Kalo pas ke daerah suka nemu jalanannya jelek dan ga nyaman buat dilewatin.
    Kalo kesasar saya sendiri suka banget menikmati lihat daerah barunya Mbak. Asalkan ya itu tadi, bukan nyasar di tengah hutan dan masih dapet sinyal gps. Hahahaha.

  3. Waduh kolak duren, apalagi kalau didesa gitu pasti durennya lebih legit kan yach? ngiler bayangin duren. padahal baru kemaren puas makan duren hasil kebun teman, hanya karena musim hujan rasanya nga semanis biasanya.

    • kolaknya terlalu coklat mbak, dan hasil fotonya jelek banget he.. he..
      ntar malah ilfeel he.. he..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.