Katrok Juga

31
256

Terinspirasi dari cerita Wong Cilik, Katrok Karena Pintu, mau cerita juga pengalaman pertama dengan teknologi baru.Rikjs Museum- Amsterdam

Cerita berlokasi di sebuah hotel di luar kota  tempat penyelenggaraan pesta perkawinan seorang keluarga. Karena untuk  hajatan perkawinan penampilan  harus jeng-jeng dong dan sudah diberikan seragam pula, maka semua anggota rombongan yang akan berseragam ini sepakat memanggil tukang rias dan berdandan di kamar hotel saja, supaya tak terlambat datang ke resepsi, Maklum rombongan ini banyak perempuannya, tahu sendiri kan dandanan perempuan rada ribet.

Kamipun diberikan kamar untuk menginap di hotel yang sama. Jaman sekarang kunci kamar hotel sudah lazim berupa kartu magnetik. Entahlah, aku selalu juga kagok buka pintu dengan kartu, makanya selalu suruh anak-anak yang membukakan, he..he..katrok nomor satu. Ketika turun menuju kamar rias di lantai 5  begitu saja aku masuk dengan santainya  ke dalam lift. Eh lha …. kok di dalam lift tombol lantai yang dituju tidak juga menyala, padahal sudah ditekan-tekan terus. Sempat panik, sampai  akhirnya baru terbuka di lantai dasar.  Untunglah kemudian masuk bellboy dan minta diantar ke lantai 5. Dia menanyakan kartu kunci kamar, tentu  tak kubawa, karena anak-anak kan masih di dalam kamar. Eh, rupanya bellboy memasukkan dulu kartu di tangannya ke lubang di dekat deretan nomor  barulah bisa menekan tombol nomor lantai yang dituju. Ha..ha…., dasar katrok, biasanya biarpun kamar sudah pakai kartu kunci, liftnya tetap model konvensional yang langsung pencet.

Katrok lain terjadi beberapa tahun lalu di kamar mandi bandara internasional di Singapore. Masuk kamar mandi untuk membersihkan diri sambil menunggu perjalanan transit dilanjutkan. Keran tak bisa kuputar, ditekan dari atas pun tak bisa. Teman seperjalanan mengajarkan meletakkan tangan di bawah keran. Dia  sudah lebih dahulu katrok, ha……ha…….. kami mentertawakan ke’katrok’an kami, (maklum dulu di tanah air belum ada yang seperti itu). Airnya pun mengucur sebentar lalu mati dengan sendirinya. Jenis keran yang bagus untuk menghemat air.

Ketika mencuci tangan di kamar mandi di Rijks Museum  Amsterdam, airnyapun tak bisa keluar setelah memutar keran.  Belajar dari peristiwa di Singapore, maka dengan percaya diri kembali kuletakkan telapak tangan di bawah keran. Airnya tak mengucur juga …aduuh…….jenis keran apalagi ini yah. Kucoba menggeser langkah ke samping sedikit , mungkin kerannya akan mengeluarkan air, dan tak sengaja  terbentur dengan tombol kecil di lantai. Tak ada tanda apapun di situ. Kuinjak saja tombol itu karena takut tersandung.  Lhaaa…. air mengalir deras dari keran.  Apa tombol ini untuk menghidupkan keran ya……..?    Seperti orang norak bolak-balik  kuinjak tombol itu untuk membuktikan dugaan. Iya, memang itulah   tombol untuk mengalirkan air wastafel.          Ha..ha…tertipu dua kali ……….

 

Catatan ;  belajar pemakaian huruf besar di awal tulisan dari pak Mars di Besar di Awal.

31 COMMENTS

  1. hihihihihihihihi. Kalo saya ketemu yang ga biasa gitu suka ikut-ikut orang lain yang di depan saya Mba Monda, kalo ga ada ya saya bela-belain nunggu. Tapi kalo di dalem toilet mah saya akan coba berbagai macam gaya. 😛

  2. Hehe, dirimu ga sendiri lho kak Monda, aku juga pernah alami kekatrokan spt itu lho. Hahaha… Kan learning by mistaken. Haha…

    Trims telah berbagi kekatrokan ini, berarti aku ada teman, hehe.

  3. Tentang buka membuka yg model pakai kartu itu kayaknya mayoritas masyarakat kita juga masih gagap Bu, cuman mereka nggak ngaku saja.
    Apalagi antara satu kartu dengan kartu lain di tempat lain lagi modelnya nggak selalu sejenis.
    Jangankan kartu begituan, sedangkan kartu ATM saja tiap kali mau pakai, saya musti mengerutkan dahi dulu kok. Selalunya konsentrasi untuk mengingat bagian mana yg atas…

  4. Wow keren sudah praktek materi Pak Mars, tampilan jadi variatif ya mbak, di review pula oleh beliau. Katrok, gaptek dan sebangsanya sering melanda saya mbak sambil manggut2 ooh lajunya perkembangan teknologi. Salam

  5. huruf T nya tjantik..!

    apalagi aku, kak.. katrok dgn segala hal yg modern gitu.
    biar gak gagap, kudu ada guide klo jalan2 di tempat yg masih asing dan modern. #kuatirnya pas pipis gak ngerti cebok dan siramnya gimana. 😛

  6. Hehehe saya juga pernah mbak, waktu nginap di Jakarta. Tapi kondisinya saya di lantai dasar, mau ke kamar. udah pencat pencet nomor lantai tapi kok nggak nyala. Sampai pintu lift tertutup agak lama. Trus terbuka lagi dan saya buru-buru keluar tanpa lihat indikator penunjuk lantai. Lho kok? Ini kan lantai dasar. Buru-buru deh masuk lift lagi. Sudah ada dua orang di dalam, lampu penunjuk angka menyala satu lantai diatas lantai yang mau saya tuju. buru-buru saya pencet angka lantai yang mau saya tuju. Lho, kok sekarang bisa. Liftnya aneh ini.

    Sampai kamar, saya ceritakan pada teman sekamar, malah diketawain. Oalah… ternyata……..

  7. yg lift berarti kl bukan tamu yg menginap gak bs naik ya mbak? kan gak punya kartunya.. 😀

    untung yg kran kyk di s’pore itu udah ada di bbrp mall jkt jd semoga kl sy ke s’pore gak katrok. Tp kl yg di belanda blm pernah liat disini.. 😀

  8. kalau soal pintu seperti itu, memang sering gagap. karena setiap hotel biasanya punya teknologinya sendiri, jadi diawal awal pasti kita harus beradaptasi.. jadi tetap cool aja don.. bukan katrok..

  9. hehehehe klo aku suka liat dulu keran nya bun, trs liat petunjuknya, klo ga ada petunjuknya yaudh liatin orang, klo ga ada org yaudh pk tisu basah hahahaha

  10. Kak …

    Saya belum pernah nemu knop keran air yang di injek ituh …
    akan saya ingat postingan ini …
    jika tak ada putaran … tak ada sensor … tak ada pencetan …
    maka … bisa jadi knop diinjak solusinya …

    salam saya Kak

  11. Katrok juga dialami oleh banyak orang jadi nggak usah minder jeng.
    Kalau ingin tahu ke katrokan yang lain coba masuk dashboard, klik appearance, lalu klik editor, klik header php. Lihat ada apa di sana tapi jangan ngotak-atik ya.

    Salam hangat dari Surabaya

  12. Jadi tombol nya dilantai gt bun? supaya tangan kita tetep bersih kali yak. Kalau pake diputer kan tangan yg udah bersih jadi kotor lagi mau nutup kerannya..

  13. Hihihihi…mbak, ini bisa jadi masukan buat saya kalo keluar negeri nih…tombol yang harus diinjek biar krannya ngeluarin air 😀

    Ibu saya pernah juga punya pengalaman seru tentang kamar mandi ini.
    Saya lupa di negara mana, beliau masuk kamar mandi karena memang sudah tidak bisa ditahan-tahan lagi. Pas mau mem-flush kloset, eh, kok nggak ada tombol apapun buat ditekan.
    Bingunglah ibu saya.
    Berhubung di kamar mandi sudah lumayan lama dan yakin diluar sudah ada orang lain yang mengtre, dengan wajah dipasang lempeng *padahal kloset belum disiram* ibu saya keluar…
    Pas ibu saya lewat pintu keluar, byuuur…ternyata kloset itu tersiram otomatis…hehe, itu kali ya mbak, yang namanya sensor badan 😀
    Di Indonesia kapan?
    Entahlah 😉

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.