Travel Photography & Blog Workshop

19
827
Kampung Budaya Sindangbarang

Travel Photography & Blog Workshop, belajar sambil jalan-jalan. Acara keren ini diadakan oleh Indonesia Corners bersama Fujifilm. Lokasinya di obyek wisata budaya Bogor di Kampung Budaya Sindangbarang dan bonus ke Rumah Sutera Ciapus.

Titik kumpul para peserta di stasiun Bogor jam 7 pagi. Untuk simpelnya kendaraan kutitip saja di stasiun Lenteng Agung (ongkos parkir hampir 12 jam hanya Rp 20.000,- ).

Agak terlambat sampai Lenteng Agung, jalan tersendat karena ada pelapisan jalan di tol JORR. Di dalam kereta kutanyakan pada petugas “Mas, kira-kira bisa sampai stasiun Bogor sebelum jam 7?”

“Nggak pasti bu, tergantung kondisi di jalan”

Nah lho, ucapannya itu bikin ketar ketir. Bagaimana kalau nanti ditinggal. Langsung kasih kabar ke grup posisiku sudah di sekitar stasiun Bojong Gede, berharap masih bisa ditunggu. Dan langsung dapat sambutan dari yang lain. Lega, kalau ditinggal pasti banyak temannya.

“Lha .. yang mana?” tanya mbak Arin.

“Masuk Bojong Gede. Jangan-jangan satu kereta” kata mbak Dian Farida.

“Satu kereta kita mbak ” mbak Nunu menimpali.

“Di kereta lihat yang baju merah, terus pandang-pandang ajah” mbak Vania Samperuru menyambung.

Seturun dari kereta kujejeri dua wanita berbaju merah. Mungkin ini blogger juga batinku. Eh ternyata mereka dadah dadah sama teman-temannya di kafe. Semua pakai kostum merah, tapi lho nggak ada mbak Donna Imelda. Berarti bukan teman ya ha.. ha.., untungnya tadi nggak langsung nembak.

credit : Indonesia Corners

Kampung Budaya Sindangbarang

Perjalanan dilanjutkan naik dua angkot hijau charteran. Peserta tak hanya dari Jabodetabek, tetapi juga ada 3 blogger keren Jawa Tengah. Kurang lebih satu jam di jalan yang tak terasa, apalagi ada mbak Memez dan Nurul Gie yang jago cerita he… he..

Kedua lokasi workshop itu banyak tanjakan. Apa daya angkot hijau tak kuat mendaki, peserta terpaksa harus turun dulu. Beberapa kali naik turun angkot, di akhir perjalanan sepulang dari Rumah Sutera kaki emak langsung keram he. .. he.. Jalan menyeret jadinya.

Tapi, ada lho berkah tersembunyi. Saat jalan kaki ini justru bisa menghayati suasana pedesaan. Tercium aroma khas pohon jengkol yang sedang berbuah ha.. ha.., bisa lihat bunga kopi yang putih cantik dan pohon pala yang sedang berbuah dengan lebatnya.

Kampung Budaya Sindangbarang masih memegang kuat tradisi dan budaya Sunda, contohnya upacara Seren Taun yaitu syukuran atas hasil panen.

Kampung Budaya ini diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat pada 2011, ada prasastinya. Ada beberapa desa seperti ini di propinsi Jawa Barat, antara lain Kampung Naga, Kampung Pulo dan Desa Wisata Cibuntu. Desa wisata dapat membantu meningkatkan perekonomian warga, selain mereka pasti akan lebih bangga pada budayanya dan tetap menjaganya.

Kampung Budaya Sindangbarang
Pemandangan ikonik di Kampung Budaya Sindangbarang. Jejeran lumbung padi (leuit) dengan warna putih hitam. Prinsip desain leuit ini bagus banget. Ada pintu kecil di atas untuk memasukkan padi, sedangkan mengambilnya dari bawah. Ada prisinsip fifo (first in first out). Rangka leuit di bagian luar pun ada maksudnya. Credit @rumikasjouney)

Kami disambut dengan angklung gubrak yang dimainkan ibu-ibu setempat. Nantinya suasana di desa sejuk ini dihidupkan oleh ibu yang paling sepuh dan paling atraktif. Beliau malah nggak mau dipanggil ibu “nenek saja”.

Lamat-lamat tercium bau harum khas kayu bakar. Ternyata para pekerja renovasi leuit asal Pelabuhan Ratu sedang menjerang air. Bukan itu saja bahkan pada saat angin bertiup ada harum bunga yang semerbak. Sempat ada pikiran aneh he.. he.. Belakangan kutahu aroma itu berasal dari ladang sedap malam di dekat aula. Lebih lanjut tentang kampung asri ini akan kutuliskan tersendiri.

Travel Photography & Blog Workshop

Komunitas Indonesia Corners digagas oleh para travel blogger keren yang sudah melanglang buana dan menghasilkan banyak tulisan yang sangat menarik. Pentolan komunitas ini antara lain mas @salmanbiroe, Donna Imelda @ayopelesiran, uni @eviindrawanto dan teh @dedew_writer.

Ini kali ke 3 ikut acara dari Indonesia Corners. Acara yang dibuat Indonesia Corners selalu menarik sih, jadi ketagihan ikut terus.

Yang pertama kuikuti acara Temu Asik Indonesia Corners Telisik Djakarta Tempo Doeloe, Januari 2018. Kedua kalinya ikut Travel Blog & Photography Workshop, April 2019. Di acara ini tercetus ide belajar fotografi langsung di obyek wisata. Alhamdulillah jadi kenyataan dan bisa ikut bergabung belajar juga di Kampung Budaya Sindangbarang.

Selain mendatangi obyek wisata budaya keren, belajar seperti ini menambah semangat untuk terus memperbaiki diri sekaligus membuat ngeblog tetap menyenangkan walau rekan segenerasi sudah inaktif.

Tak ada waktu terlambat untuk belajar bukan? Blogger itu memang dituntut untuk bisa menulis, memotret, riset, SEO, infografis dan buat video. Mungkin juga harus bisa membuat musik pengantar video, supaya nggak dituntut hak cipta. Sanggupkah?

Travel Photography Workshop

Eksplor dengan berbagai sudut pandang

Kembali berbicara di workhsop ini adalah uni @raiyanim, fotografer handal yang karyanya sudah banyak dimuat di media ternama.

Raiyani Muharamah, fotografer berpengalaman yang foto-fotonya sering memenangkan kompetisi berhadiah puluhan juta.

Uni Raiyani semangat membagi ilmu fotografi karena miris melihat banyak blog yang kualitas fotonya minimalis.

Tema yang dibawakan oleh uni Rai adalah mengenai teknik pengambilan foto. Umumnya orang memotret pada posisi eye level. Kami didorong untuk mengenal teknik low angle dan high angle serta cara memotret sesuatu yang bergerak. Tentu beliau pun memberikan contoh fotonya. Betul, dengan sudut berbeda foto jadi terlihat lebih dramatis.

Juga ditambahkan materi etiket fotografi bila berada di lokasi yang banyak pemotretnya.

Hal lain yang bikin tambah semangat peserta dikasih kesempatan memotret dengan kamera Fuji. Uni juga memberi petunjuk pemakaian kamera. Nggak usah gengsi memakai fungsi otomatis. Catat. Itu karena teknologi ada untuk memudahkan kita bukan?

Blog Workshop

Para peserta dengan dresscode merah, serius menyimak ilmu dari mbak Donna @ayoplesiran “How To Write Your Great Travel Story”

Workshop dilanjutkan setelah makan siang oleh mbak Donna Imelda yang menyampaikan tema “How to Write Your Great Travel Story”.

Menurut mbak Donna esensi ada pada tulisan bukan hanya perjalanannya, karena karakter yang membangunnya adalah narasi sehingga tulisan bernilai informatif, deskriptif dan kaya akan pengalaman emosional.

Apa yang membuat tulisan perjalanan berkesan? Carilah keunikan sebuah tempat. Caranya dengan melakukan riset kemudian coba buat sudut pandang cerita yang menarik.

Kuakui yang paling sulit adalah membuat kalimat pertama. Jangan terpaku di situ. Saran mbak Donna buat kerangka tulisan atau storyline. Bisa juga diawali dengan pertanyaan, quotes, lirik lagu. Pokoknya sesuatu yang bisa menahan pembaca tetap di tulisan kita sampai akhir.

Kira-kira itulah intisarinya. Tak mungkin juga ya dituliskan semua karena file pdf nya pun panjang.

credit : Indonesia Corners

Atraksi Budaya

Di Kampung Budaya Sindangbarang yang terlibat melestarikan budaya dan tradisi tak hanya para tetua saja. Bahkan anak-anak dan remaja telah sanggup tampil membawakan kesenian setempat. Pas sekali menjadikan penampilan ini sebagai ajang praktek ilmu memotret yang baru didapat.

Teori yang didapat segera dipraktekkan. Motret bersama teman-teman ini pun jadi ajang belajar juga. Hasil foto tiap orang itu pasti berbeda-beda. Lain kali kita bisa ATM (amati, tiru dan modifikasi).

Ada 4 jenis kesenian tradisional yang ditampilkan yaitu Kaulinan Barudak, Rampak Gendang, Tari Merak dan Parebut Seeng.

Para ibu pemain angklung gubrag. “Nenek” in action. (credit : @rumikasjourney)
Kaulinan Barudak – permainan bocah. Ada bintangnya di sini. Bocah paling depan yang jadi pusat perhatian para peserta. Paling kecil, paling imut dan gerakannya menggemaskan. (credit : Indonesia Corners)
Demi low angle, para peserta tak segan jongkok, tiarap, bersimpuh di rumput. Ini sedang memotret gerakan para penari Rampak Gendang. (credit : Indonesia Corners)

Mencoba Kamera Fuji XA5

Aku berbagi kamera Fuji dengan dua teman, mbak Dita @rumikasjourney dan mbak @nunuhalimi. Ini gara-gara aku lupa bawa sdcard. Kami mendapat kamera hijau pupus yang cantik dari seri XA5.

Mempraktekkan posisi low angle harus dong ikut merumput. Karena nggak kuat jongkok lama atau tiarap, ya sudah tiduran saja berbantal ransel entah punya siapa he.. he.. Bobot kamera yang ringan memudahkan sekali bila memotret dengan posisi ini, di pegangan terasa ajeg. Shutter terasa ringan, bisa terus menerus menekan shutter mengikuti gerakan lincah para penari.

Foto-foto berikut inilah yang kupotret dengan Fuji XA5.

Tari Merak, tari kreasi yang menggambarkan gerakan pamer keindahan bulu merak jantan untuk memikat betinanya.

Bagus ya hasil akhirnya, warna foto terlihat cerah sekali, terlihat jelas ditel pada kostum penari Merak. Tak kulakukan edit sama sekali pada foto-foto ini, hanya kompres dan ubah ukuran gambar saja. Aku suka tone cerah natural seperti ini sih.

Parebut Seeng – merebut penanak nasi, biasanya dilakukan pada acara pernikahan.

Parebut seeng memakai jurus-jurus silat tradisional Cimande. Bial seeng berhasil direbut maka pengantin pria boleh masuk ke rumah pengantin putri.

Kamera mirrorless ini terasa ringan di tangan lho. Kelebihan seri ini adalah viewer model flip, yang bisa dilipat hingga 180 derajat, gampang kalau mau selfie he.. he.. Layar LCD sudah touchscreen pula. Lensanya tipe XC 15-45 mm dengan sistem electronic zoom. Kamera tipe ini punya ISO 200 sampai 12800, keren kan sensitif sekali lensanya. Dan ada pula mode baru 4K Burst Shooting dan Multi Focus Mode.

Tipe Fuji XA5 ini cocok juga untuk foto low angle karena memudahkan pemotret nggak perlu terlalu jongkok, cukup lihat di viewer saja. Dan pas pula untuk ngevlog karena bisa dipasangi mic eksternal.

Varian warna seri XA5 cantik semua, duuh jadi bingung menentukan pilihan. apalagi setelah paham fitur dan langsung praktek beberapa jam. Apalagi sudah familiar dengan Fuji. Dulu terbiasa memotret dengan kamera analog Fuji punya bapakku. Apakah ini artinya sudah saatnya beralih dari smartphone andalan?

Selain dapat pelajaran fotografi, di acara kali ini juga dapat pelajaran persahabatan. Bayangkan , baru pertama kali tatap muka dengan dua rekanku berbagi kamera Fuji XA5 tapi baiknya bukan main. Mbak Nunu mau kasih pinjam sdcard lalu mengirimkan file foto yang sedemikian banyaknya. Mbak Dita selalu menawarkan gantian pakai kamera. “Mau pakai nggak mbak?””Nggak ada rebut-rebutan dan sirik-sirikan. Mengutip ujaran terkenal dari rekan blogger senior oom Nh “This is the beauty of blogging”.

19 COMMENTS

  1. Seru ya mba Monda jalan-jalan begini. Bisa nambah ilmu, teman eh follower juga. Ditambah bisa praktek langsung pakai kamera profesional Fujifilm yang hasilnya nggak ngecewain.

    • seruuu…, mana tempatnya ini kan belum pernah dikunjungi, dan dapat teman2 yang sehobby.., jadi nggak ada tuh yang ngeluh he.. he…

    • nah iya mbak… betul semua, dapat pengalaman baru…
      kalau mbak peri kebun ikut juga pasti kita akan sama2 hunting pepohonanan iniih

  2. Keren acaranya, Kak.
    Nyegerin mata dan pikiran ngelihat yang hijau2 dan pertunjukan budaya, plus ilmu foto dan ngeblog.

  3. itu rumahnya kayak di shirakawago di jepang itu ya bun. tapi yang jepang itu rumah, yang ini lumbung.

    Btw, acaranya keren banget. Jadi ingat kamera aku itu fujifilm xa3. Tapi sampai sekarang pakenya cuma Auto aja dan pastinya eyes angle, hahaha

  4. asyik betul mba .. blog workshop di tempat seperti ini … saya pernah main sesepedahan kesini … dan disekitaran tempat ini ada beberapa situs peninggalan kerajaan Padjajaran.
    btw … Kamera Fuji XA5 kece bangettt …

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.