Jejak-jejak Wisata

51
180

Terhenyak baca berita di Kompas.com banyak sampah yang tertinggal atau sengaja ditinggalkan para pengunjungTaman Geologi Gunung Rinjani, Lombok. Aku yang belum pernah naik gunung sekalipun mengira pengunjung dan pendaki gunung-gunung tinggi yang sangat sulit dicapai oleh orang biasa itu adalah para pecinta alam yang memang sangat cinta lingkungan. Pikiran polosku itu membuatku tertipu. Gunung Rinjani kok jadi hanya sekedar obyek wisata biasa-biasa saja yang harus bergantung pada jasa cleaning service. Karena tak ada lagi yang mengelola sampah, wilayah Gunung Rinjani katanya sudah seperti tempat akhir pembuangan sampah. Padahal ada lho saran atau semboyan kalau mau menjelajah alam “jangan tinggalkan apa pun kecuali jejak, jangan amnil apa pun kecuali foto”.

Jadi teringat kunjunganku ke beberapa tempat wisata. Seperti misalnya ke Ngarai Sianok, Sumatera Barat. Sampah makanan kecil dan sisa kemasan botol susu diambil oleh para kera yang datang dari ngarai. Asyikbsekali dia minum susu, bahkan sampai menjilati tetesan susu yang tumpah. Di Situ Cangkuang demikian juga, ayam kampung makan jagung bakar yang dibuang sembarangan oleh wisatawan. Tak seharusnya kan hewan makan makanan manusia, apalagi hewan liar, kalau mereka jadi ketagihan kan bisa menyerang manusia, makanan manusia kan tak sesuai dengan pencernaannya, lalu jadi sakit dan mati, punahlah mereka.

Grafitti

 

Tak hanya meninggalkan sampah, bahkan tanaman pun dikasih kenang-kenangan berupa grafiti. Lihat saja kaktus yang ditanam di halaman Hotel Seruni Cisarua. Tamu hotel mewah itu kan relatif berpendidikan tapi vandalisme mah tetap saja.

Jadi bagaimana sih harusnya sikap kita di lokasi wisata, ya tetaplah buang sampah di tempatnya, atau kantongi sampahmu sampai bertemu tempah sampah atau bisa juga kubur sampah organikmu.

51 COMMENTS

  1. Jadi inget, dulu mbak.. Waktu saya masih abegeh, masih remaja, juga suka ninggalin jejak.. “anna was here”. Nulis di meja, kursi.. Tp kalo tempat umum nggak loh mbak.. Apalgi di tempat wisata seperti gunung.

  2. Kebetulan sekali, mbak Monda. Saya 2 hari lalu berkomentar tentang perlunya edukasi warga (Indonesia) tentang pariwisata. Di lokasi wisata, suah jamak terlihat sampah dan gratifikasi.
    Saya pernah ke air terjun Colo di Kudus. Ada sekelompok pedagang yang (memang) membersihkan sampah tetapi hanya di sore hari menjelang tutup. Jadi sebelum sore banyak sampah dagangan mereka juga. Dan …. yg kusesalkan adalah cara menjual mereka yang lansung membagi makanan ke anak dan meminta bayaran ke orang tuanya.

    • iya para pedagang juga harus sama2 dikasih penyuluhan kebersihan ya.., kl kotor dan maksa2 mah orang jadi malas datang lagi, mereka juga yg rugi

  3. Sedih Tanteee… Kenapa ya. Tapi ga cuma di tempat wisata sih, orang sini mah buang sampah di mana-mana sembarangan 😛 Aku oraaa lho Tanteee…

  4. Yang ngukir-ngukir taneman dan nyoret-nyoret itu …
    pasti merasa nggak eksis di lingkungannya …
    kesian de lo …

    Salam saya Kak

  5. Semakin banyak yang mengunjungi akan semakin berpotensi menghasilkan sampah di sana-sini. Makanya itulah salah satu alasan saya kenapa jarang nulis tempat-tempat yang eksotik yang pernah saya kunjungi. Takut deh semakin terekspos akan membuat orang berbondong-bondong datang.

    Harus ada kesadaran dari para pengunjung soal kelestarian tempat yang dikunjungi. Pengelola juga harus punya sebuah aturan main yang benar-benar dilaksanakan pada setiap pelanggar. Misal denda atau perlu dihukum jemur atau rendam deh haha

    • asyik juga kalau dihukum berendam dalam Segara Anakan uncle, ha..ha…ha…

      bungsuku juga pernah melarang nggak bileh nulis tentang Puncak Lawang di Danau Maninjau, kalau orang rame datang ntar jadi nggak cantik lagi..

  6. Sepertinya pengelola wisata juga berbaik hati dengan menyediakan tempat sampah yang lebih dari cukup, toilet yang bersih, juga petugas kebersihan yang selalu siap siaga. Ya…. pengunjung juga harus sadar kalo kebersihan itu bagian dari iman ya…. Nyampah itu dosa!!!!!

  7. Pelaku perusak lingkungan wisata tersebut emang kudu di jewer…tapi bagaimana caranya ya Mbak…

  8. Kesal ya Kak melihat tingkah polah orang-orang yang tidak bertanggungjawab terhadap tempat-tempat wisata tersebut. Kedatangan kita untuk menikmati keindahan wisata di situ menjadi terganggu gara-gara coret-coretan tersebut.. Yang lebih parah lagi, coretan di toiletnya… Ampun deh..

  9. Sedih ya kalau ngeliat kayak gini, tempat wisata penuh sampah. Padahal kalau udah kayak gitu, kan pengunjung sendiri yang ngga nyaman.

    Soal coret2, kemarin waktu jalan2 ke Tamansari Yogya, di dinding2nya banyak sekali coretan. DUh ..

  10. wisatawan yang kurang kesadaran dan kepekaan terhadap lingkungan sekitar serta harta indonesia itu mbak,,,

  11. Benar sekali bunda Monda, kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya, masih kurang. Wah bila tempat2 wisata tidak memiliki tim kebersihan, bisa jadi tempat wisata tersebut beralih peran jadi tempat penampungan sampah baru, mirisss…

  12. ngarai sianok… alhamdulillaaah aku sudah pernah kesanaaa… bangga deh udah pernah kesana. hahahahhaa….

    iya mbak ya, disana tuh agak agak kotor gitu
    bekas pengunjung ngasih makanan ke monyet

  13. Beberapa minggu yang lalu saya naik Gunung Prau, kemudian ada teman (bukan blogger) berkata pada saya “jika perjalanan ini kamu share di Blog, bisa jadi kamu memberi jalan kepada wisatawan untuk merusak alam”.

    Ya karena itu tadi, mereka berwisata tapi gak nyangu kresek, Bund. Harusnya kan bawa kresek pas naik gunung, buat naroh sampah. Minimal sampah sendiri. Gemeese pool, kalau ada wisata alam, tapi berserakan sampah.

    Semoga kita selalu ingat, kebersihan sebagian dari iman.

  14. Sampah selalu menjadi cerita yang ngak pernah habisnya…memang susah juga mbak yach..menjaga kelestarian lingkungan ngak cukup oleh peran pihak berwenang saja, kita yang pelaku thd lingkungan juga seharusnya mempunyai kesadaran sendiri…

    Dan itu butuh perjuangan panjang untuk memupuk kesadaran masing-masing mbak yach…semoga semakin tua mereka makin ngerti mbak 🙂

  15. emang ya Kak, memprihatinkan sekali seperti ini.
    sampah di tempat wisata sepertinya sudah menjadi masalah umum krn kurangnya kesadaran sebagian besar pengunjung

  16. Kalau udah kebiasaan susah bun untuk membuangnya, dimanapun dia berada. Bahkan di gunung sekalipun.

    Jadi teringat membaca sebuah artikel bahwa anak SD itu sebenarnya cuma perlu diajarkan kepedulian seperti membuang samapah ditempatnya dan budaya mengantri.

  17. mungkin disinilah responsibility of travel writer ya kak, menulis tidak hanya keindahan tempat tersebut tetapi juga berbagai hal yang kiranya harus diubah.

  18. Coret-coret gitu bukan hanya ditempat wisata lho mbak. Di tempat-tempat yang kental religiusnya seperti jabal rahma di mekah juga banyak tuh coret-coret gitu

  19. kadang suka bingung sm orng yg ngaku pecinta alam tp buang sampah sembarangan…. 🙂
    btw,,, nice post mbak monda.. salam kenal^_^V

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.