Jalan-jalan Dadakan

44
296

Mulai bosan dengan rutinitas yang padat, ingin rasanya segera ganti suasana supaya segar lagi. Memang, sudah tiba libur sekolah. Tahun lalu kami sekeluarga berwisata ke Ranah Minang, yang sering kami sebut TDRM, Tour de Ranah Minang.  Sebetulnya tahun ini tak merencanakan jalan-jalan jauh karena si sulung tamat SMA dan pastinya perlu persiapan pendaftaran di sana sini, perlu biaya khusus. Apa daya panggilan jalan-jalan itu tak terelakkan he..he….

Tanpa perencanaan mau ke mana? Apalagi waktunya serba tanggung, sudah dekat bulan Ramadhan pula, ribetlah mencocokkan jadwal berempat secara tiba-tiba.. Akhirnya disepakati perginya akhir minggu saja, cukup dua hari.  Lalu mau ke mana? Pilihannya harus tempat yang dekat di sekitar Jawa Barat dan pakai kendaraan sendiri saja supaya lebih irit. Pertimbangannya mau cari resort di sekitar Bogor, atau ke Cirebon lagi atau Garut ?  Tapi ya karena tanpa rencana itu nekad sajalah ke Garut, bukankah kami dulu  pernah sampai Nagrek, tak jauh lagi ke Garut atau Tasikmalaya, Jadi dengan yakinnya kami berangkat juga hanya berbekal petunjuk jalan dari teman dan tanya orang di pinggir jalan. Aku   kepengen lihat Situ Cangkuang dan candinya, yang sudah lama jadi salah satu wishlist aku, apalagi sejak baca tulisannya mbak Irma Bintang Timur dan foto-foto cantik karya kang Yayat.  Harus bisa dong,  Yeye  yang punya anak batita saja berhasil jalan-jalan tanpa rencana, padahal bawa anak kecil jalan-jalan kan cukup merepotkan. Ketika diminta pendapatnya, anak-anak pun langsung setuju.

Perjalanan pagi itu lancar, dalam waktu satu setengah jam sudah sampai di ujung tol Purbaleunyi, lalu berbalik arah dan belok ke kiri.. Hambatan justru setelah masuk jalan umum ini, yaitu daerah Rancaekek, karena pasar tumpah yang melebar ke jalan raya. Di sini jalan sangat lambat, satu jam melewati jalan kurang lebih 2 – 3 km.Setelah itu lancar lagi sampai tiba di turunan terjal yang terbelah dua, ke Garut di sebelah kanan, dan jalan ke arah kiri ke Tasikmalaya. Dari simpang ini kurang lebih 20an km ke Garut. Kami melewati daerah Leles, lokasi Situ Cangkuang. Sengaja belum mampir saat itu juga karena mau cari hotel dulu di daerah Cipanas sesuai googling dan rekomendasi teman.

Di jalan raya Cipanas ini banyak hotel dan resort, tinggal pilih saja yang disuka. Kami masuk beberapa resort, rata-rata penampilannya berupa kolam dengan pondok. Ada resort dengan pondok yang mengambil tipe rumah tradisional berbagai suku di Indonesia (Danau Dariza). Antara lain ada bentuk rumah Batak, Bali, Toraja dan rumah Gadang. Sempat teringat impian tidur di rumah gadang, tapi karena menuju ke rumah itu harus pakai perahu, batal deh.

Akhirnya kami memilih Kampung Sumber Alam, yang rupanya hanya tinggal sedikit punya kamar kosong. Kami dapat pondok berkamar satu  di atas balong (kolam ikan), tentulah harus pesan extra bed.

kampung sumber alam - Garut

Makan siang dengan bekal yang dibawa dari rumah sambil  duduk di teras pondok memandangi balong dan gunung Guntur di kejauhan sungguh menyenangkan. Lega, langsung hilang rasanya semua kelelahan dan kebosanan. Memandang lanskap pedesaan yang hijau, meskipun bukan lanskap alamiah tetap membuat rileks.

gunung Guntur - Garut

Kegiatan kami hari itu hanya bersantai saja dan mengelilingi area penginapan, sambil foto-foto tentu saja. Ikan-ikan di balong ini boleh dipancing, sarana alat pancing di sediakan juga oleh pengelola.

Dari sini kusms mbak Irma, menanyakan  wisata kuliner dan obyek yang bisa dikunjungi. Beliau menyebutkan  dua restoran terkenal dan Kampung Naga, di antara Garut dan Tasikmalaya. Ok, tempat ini kami masukkan dalam rencana karena memang akan sekalian mengunjungi teman lama di Singaparna, sebuah kota kabupaten sebelum mencapai Tasikmalaya.

 

 

44 COMMENTS

  1. jalan-jalan dadakan emang seru Mba Monda, tapi saking serunya kadang dua hari itu rasanya kurang bangeett… Hehehehe.

  2. jalan jalan memang berasa lebih ketika pemandangan alamnya sangat indah, apalagi disertai hawa sejuk dan segar, pasti akan terasa sangat nyaman

  3. Pemandangannya bagus sekali kak ada pegunungannya. Sambil menikmati makanan di restoran bisa melihat ikan-ikan di kolam asyik deh :).

    • dicoba aja Ryan…, asal jangan daerah yang terlalu padat wisatawan, ntar cari penginapannya rada susah

  4. Meski dadakan, tapi kalau berwisata bareng keluarga, sudah pasti senang ya, Bund. 🙂

    Tempat wisata yang indah, sejuk sepertinya. . .
    Apalagi kalau mancing kemudian dapat ikan. . .
    Goreeeeeeeeeeng. . . 😀

    • iya pak Har, memang sebelumnya udah banyak dengar tentang kota ini sih, jadi biar dadakan tapi tujuannya sudah ada

  5. Kebutuhan utamanya santai sejenak dalam kebersamaan ya mbak.
    Lokasi jalan-jalan yang dipilih asyik mbak, panorama alam Parahiyangan menenangkan.
    Menunggu cerita berikutnya ah. Salam

  6. nah ini dia kisah awal si papyrus.. 😛

    aku ke garut dulu jaman kuliah.. ngadain ppm dua hari.
    nginepnya di rumah penduduk.. tapiii dulu itu menyesal gak kepikiran buat blusukan di garut.. habis ppm ya lgsg balik bandung.

  7. jalan-jalan spontan itu menurut saya lebih banyak kenangannya daripada yang sudah direncanakan jauh-jauh hari. salah satunya kenangan kesasar (salah jalan maupun ketemu jalan buntu), akhirnya malah bisa nemu jalur alternatif.

    • he..he.. iya bener mbak, tapinya gara2 itu jadinya kelewatan deh jalan lingkar Nagrek, padahal katanya jalan itu cantik, ngiri lihat foto teman2 blogger di sana

  8. Wow .. tanpa rencana sampai Garut, luar biasa 😀
    Garut itu indah. Temen saya dari Bali dulu dua minggu tinggal di Garut dan dia bilang, Garut pedesaannya lebih indah dari Bali. Makanya saya suka sekali Garut.
    Terus Bun, episode berikutnya cerita cangkuang donk he he

    • nekad2an kang, pulangnya pengen lewat lingkar Nagrek malah kelewatan he..he..
      sayangnya kami nggak eksplor perkampungan di Garut, cuma lihat di sekitar Cangkuang, karena mau lanjut ke Kampung Naga dan ke Singaparna..
      abis ini mau cerita Cangkuang, tinggal kasih narasi, sebagian foto2 Cangkuang udah diupload he..he…
      trims kang

  9. mohon maaf teman2 yg kemarin sudah komen di sini, komennya ilang termasuk balasan komen dariku,
    ini terjadi krn perpindahan hosting blog ini, karena belum pengalaman aku nggak tau ini bisa terjadi

  10. Wah, mbaaakkkk…senengnya jalan-jalan ke Garut!
    Sayang sekali saya sudah pindah dari sana, jadi nggak bisa saya temenin deh…
    Baca posting ini, saya jadi kangen kampung sumber alam, karena tempat ini juga yang selalu saya rekomendasikan kalau ada temu yang akan bermalam di Garut 🙂

    • nekad itu perlu juga ya mbak, abisnya pake rencana malah mundur melulu,
      tadinya kan pengen nungguin suaminya adek sepupu yg emang orang sana, tp nggak pas terus waktunya

      iya mbak, nggak salah ya kami pilih Kampung Sumber Alam, anak2 senang banget di sana, untung aja masih ada kamar sisa, karena banyak juga tamunya

  11. Kadang-kadang yang dadakan begini yang berkesan ya Bu 🙂 kolamnya bagus ya ada teratai2nya, kaya di film2 China Kuno tempatnya putri dan pangeran pacaran

    • wah …, kenangan Clara sampai ke film Cina kjno ya,
      cuma pernah nonton serial silat…, coba ingat2 ada kolam teratainya nggak ya

  12. View disekitar KSA ini sangat meneduhkan. Aku bisa membayangkan makan siang bersama keluarga yg bekalnya dari rumah di beranda itu Mbak Mon. How sweet 🙂

  13. wah boleh juga nih di tiru hehehe.,.,.,

    karena kalau di rencana suka ga jadi, dan kalau dadakan itu suka seru.,.,.,.,. hehehe

  14. oooh ini kolam ikan di foto sebelumnya yah Bun.. Pemandangannya memang bagus… 🙂

    Kalau vania jg sering kuajak jalan2 dadakan, kadang seru juga jalan tanpa rencana gtu ya Bun 🙂

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.