Food Photo Story (FPS) seri ke 8 ini  seputar  wisata kuliner Yogyakarta selain Kipo, kue khas Kotagede. Nggak secara khusus merencanakan akan ke tempat-tempat wisata  kuliner populer, eh untungnya dapat yang legendaris. Legendaris  dalam arti sudah ada sejak bertahun-tahun bahkan ada yang sudah turun temurun beberapa generasi. Yang sejak awal keberangkatan direncanakan  cuma kunjungan  ke Coklat Monggo dan Tempo Gelato.

Jadi inilah jurnal wisata kuliner Yogyakarta, dimulai dari makan siang garang asem di Klaten dan berakhir dengan sarapan pagi di Malioboro (disusun nggak berdasar hirarki tanggal ya)

Wisata Kuliner Yogyakarta – Sarapan Pagi

Wisata di Yogyakarta selain jalan-jalan cantik semaksimal mungkin mau sekalian wisata kuliner khas yang barangkali sulit ditemui di kota lain. Oleh karena itu  sekali lagi kami tak ambil paket  sarapan di hotel.

Warung Brongkos Handayani

Brongkos Koyor Handayani

 

Hari 2 & 3. Hari pertama masih sarapan di Solo. (FPS #6 tentang Wisata Kuliner Kota Solo)

Di depan  hotel Neo Awana tempat kami menginap ada beberapa becak yang “mangkal”. Bertanya pada  mereka lalu tawar  menawar ongkos kami dibawa ke Warung Makan Handayani di sekitar Alun-alun Kidul.  Teernyata dekat banget dari hotel.

Belakangan kami tahu warung brongkos ini sangat terkenal di Jogja. Makanannya lezat. Nggak menyesal deh tanya sama pak  becak.  Malah akhirnya besoknya sarapan ke sini lagi. Judulnya ketagihan ha.. ha…

Warung makan ini sederhana, ada beberapa meja dan kursi kayu panjang. Di sisi kanan ada bagian pemesanan dan sekaligus dapur kecil. Boleh melihat kegiatan di dapur, ada panci berisi rebusan yang sedang menggelegak, katanya sedang merebus koyor. Juga terlihat satu panci besar kacang tolo rebus.

Sambil menunggu pesanan nasi brongkos koyor diantar, kulihat ke sekeliling dinding yang dipajang foto orang terkenal yang pernah mampir, juga liputan koran tentang warung ini. Bisa baca info seputar jenis makanan dan sejarah warung ini yang telah ada sejak tahun 60an.

Brongkos salah satu masakan tradisonal dari Jawa, tepatnya dari Demak, Jawa Tengah. Makanan ini berkuah santan, terbuat dari 15 jenis  rempah. Salah satunya kluwak yang membuat kuahnya berwarna coklat kehitaman. Mirip rawon dari Jawa Timur. Sedangkan koyor adalah lemak daging sapi atau kikil yang direbus dengan bumbu khusus hingga terasa lembut. Pelengkapnya ada kacang tolo rebus dan tahu.

Rasa brongkos koyor ini nikmat banget, gurih dan sedikit manis menjadi satu.  Bahkan untuk seseorang yang belum pernah makan brongkos seumur hidup makanan ini terasa enak. Dan bau harumnya semakin menggugah selera.

Selain brongkos koyor, ada juga brongkos telur, nasi rames, soto ayam  dan nasi pecel. Sayang  sudah terlanjur kenyang tak sanggup mencicipi es campur yang terkenal juga dan menjadi cikal bakal usaha keluarga ini.

Warung ini buka sejak pagi hingga malam. Hidangan malam bukan brongkos lagi tetapi ayam geprek.

Warung Brongkos Handayani
Alamat : Jl. Gading (di selatan Alun-Alun Selatan Yogya, arah ke Plengkung Gading)

Soto Kadipiro

 

Soto Kadipiro Yogyakarta

 

Hari 4. Setelah dua hari berturut-turut makan brongkos, sarapan hari ketiga  ingin coba yang lain. Pengemudi taksi online yang mobilnya  kami sewa harian mengusulkan ke Soto Kadipiro.

Katanya ini salah satu warung soto ayam terkenal di Yogyakarta dan sudah ada sejak tahun 20an.  Warung ini sudah punya beberapa cabang, kami diajak ke warung pusat di jalan Wates 33. Rasa dan sensasi soto ini banyak digemari orang,  warung sederhana di pagi itu cukup penuh. Untungnya masih ada satu meja kosong di bangunan sebelah. Di warung tersebut  banyak ornamen khas Jawa yang dipajang mengisi beberapa sudut , membawa suasana seperti pada bangunan zaman dahulu.

Soto Ayam Kadipiro seperti umumnya kuah kaldu bening berisi irisan daging ayam, kol, taoge , bawang goreng dan seledri. Pelengkapnya nasi, ayam goreng suwir, perkedel, tahu dan tempe bacem, dan sate. Soto  yang kelihatan bening itu  karena paduan bumbunya yang pas jadi  terasa segar dan gurih.

Soto Kadipiro Yogyakarta

Alhamdulillah, sarapan dengan semangkuk soto ini mampu memberi tenaga untuk  lanjut jalan-jalan ke tempat lain.

Sarapan di Malioboro

Hari 5. Siang hari akan kembali terbang ke rumah dan nggak mau buang waktu jalan-jalan dulu dong sebelum sarapan. Tujuannya ke Pasar Ngasem mau lihat Pulo Cemeti.  Ini obyek usulan dari emaknya Saga. Nah dari sini kami putuskan cari sarapan ke jalan Malioboro. Masa ke Yogyakarta nggak mampir sama sekali ke jalan terkenal itu.

Sayangnya tak banyak resto atau warung makan yang buka di pagi hari itu. Akhirnya di ujung jalan Malioboro itu ada ruko dengan menu nasi gudeg. Alhamdulillah cukup mengenyangkan makan pagi di sini, rasanya lumayan dan sekaligus masih dapat atmosfir kota Yogya.

Wisata Kuliner Yogyakarta – Makan Siang

Hari pertama masih dalam perjalanan Solo – Yogyakarta. Kami mampir makan siang di Klaten, ingin cari garang asem. Cuma,  kok lupa dicatat nama rumah makannya, saking lapar ha.. ha.. Yang kuingat letaknya setelah Masjid Raya Klaten yang megah itu, di sebelah kiri jalan arah Jogja. Garang asem dan dawet yang disajikan cukup bercita rasa.

Jejamuran

Restoran Jejamuran

 

Hari 2 & 4. Sesudah dari Situs Warungboto dilanjut ke Coklat Monggo, lalu  makan siang mau ke mana?

Pengendara mobil online kasih saran ke Jejamuran. Ok, nama ini sudah kami kenal karena pernah diajak Hampir  mampir ke sini oleh seorang teman karib,  saat resto ini baru dibuka. Tapi sempitnya waktu kala itu nggak sempat memenuhi undangan tersebut. Maka, kinilah saatnya.

Jauh juga jaraknya dari lokasi Coklat Monggo ya.  Ongkosnya saja hampir cepek. Oh iya, karena ketemu driver yang enak diajak ngobrol sejak dari Warungboto, maka kami sewa saja sekalian mobilnya, berpatokan pada tarif online. Pengendara ini anak muda gaul Jogja dan sering ke resto ini. Dia kasih saran  pesan  makanan kesukaannya, sate jamur. Tentu saja dia diajak makan bareng dong.

Pesanan kami selain sate jamur, juga nasi goreng jamur, tongseng jamur, jamur goreng crispy dan es cendol jamur. Iya semua makanannya ada unsur aneka jenis jamur. Sempat tanya sama mbak pramusaji jenis jamur untuk tiap-tiap masakan. Tapi udah lupa ha.. ha..h

Nah, menunggu pesanan datang, tamu bisa keliling lihat dapur yang dibatasi kaca bening. Aku bisa nonton para koki menyiapkan makanan. Dapur cuci piring dan dapur penyajian dipisah. Keliatan deh dapurnya resik. KIta jadi yakin makanan diolah secara higienis.

Pihak resto  juga memamerkan polybag  jamur  yang sudah siap panen di dua tempat.  Kulihat ada jamur portobello, champignon, jamur merang, jamur tiram, jamur kuping dan lain-lain. Ternyata  juga ada paket wisata jamur,  “Jelajah Kebun Jamur” jam 09.00 – 15.00 setiap hari. Biaya tour Rp 15.000,- per orang. Bisa juga beli Mushroom Kit per  paket seharga Rp 10.000,-

Semua makanannya enak, hampir nggak bisa membedakan rasa jamurnya. Yang paling kusuka tongseng jamur, bumbunya kental, terasa pas semua rasa asin gurih dan pedasnya. Makanya kembali lagi ke sini di hari keempat.

Makan Siang di Pantai Pulang Sawal

Hari ke 3 karena jalan-jalannya ke pantai, cari makan siangnya di daerah pantai pula. Datang ke beberapa pantai, yang cukup representatif untuk  makan siang di daerah pantai Pulang Sawal  atau yang lebih dikenal dengan nama  Pantai Indrayanti.

Pilihan menu di Walet Resto itu aneka seafood  dan ayam. Harga makanan per porsi bervariasi. Untuk seafood sekitar Rp 25.000,-  Udang bakar kecap boleh dikasih jempol.

 

Wisata Kuliner Yogyakarta – Makan Malam

Setelah check in di Hotel Neo Awana cari makan malam dulu dong. Yang terdekat dari hotel ke outlet gudeg Jogja Yu Jum. Dirasa belum “nendang”  karena banyak jenis makanan yang tertera di menu sudah habis. Kok  masih ingin hidangan hangat ya, Bagaiman kalau Mi Jawa. cari ke mana ya? Oh ya ingat tadi melewati Warung Mi Kadin.

Mungkin dahulu warung mi yang berdiri sejak tahun 1947 ini sangat terkenal dan katanya kesukaan mantan Presiden Suharto. Tetapi kini tempatnya terasa gelap  dan  sayangnya pelayanan agak lama.  Orang lain yang pesan sebelum kami bahkan sudah mendapatkan makanannya lebih dulu.

Di bagian belakang warung ini ada 6 gerobak, tetapi hanya 3 gerobak yang dioperasikan. Bakmi dimasak di atas arang, mungkin itu yang membuat masakan lama matang, padahal pengunjung cukup lumayan. Dan mungkin kami dapat koki yang nggak pas, karena masih belum merasa cocok dengan selera.

Makan  malam maunya kami yang serba hangat. Jadi di malam berikutnya  ke  Bakmi Jowo Mbah Gito.  Restorannya unik dan masakannya lezat.  Tentang  ini nanti deh dilanjutkan.  Tulisan ini akan terlalu panjang dan energi rasanya sudah habis, ini sudah disiapkan seminggu kok nggak selesai juga he.. he.. Jadi Wisata Kuliner Yogyakarta masih akan berlanjut.