Blogger di Mata Keluarga

48
242

Buat blog   pada awalnya hanya sebuah keisengan, sekedar memuaskan rasa ingin tahu. Setelah dijalani ternyata keisengan itu mampu  bertahan hingga kini.  Segala kerempongan mencari dan memetik ide, tersendat saat buat kalimat pembuka,  jadi terlupakan ketika  kolom komentar diisi oleh teman-teman blogger dan pengunjung umum. Di situ aku merasa sangat senang, interaksi di blog ini membuat semangat ngeblog tetap menyala-nyala.  Apalagi bila terbukti isi blog ini bisa membantu orang lain, rasanya puas sekali. Nah, setelah sekian tahun tenggelam dalam blog, apa  pendapat keluarga tentang kegiatan yang satu ini?  Variatif bangetlah pokoknya jawabannya anak-anak dan suami.

Si sulung jarang baca blog ini, dia lebih suka nonton drama Korea dan baca novel. Adiknya juga masih mau baca blog, walau hanya sesekali.

“Dek.. suka baca blog mama?” Jawabannya itu lho  bikin jleb banget “Jarang” he..he..

Ditanya dan diselidiki lebih lanjut katanya  hanya membaca cerita jalan-jalan keluarga saja . Tulisan  lainnya tak dibaca karena “mama bukan beauty blogger sih”.  Kalau mama jadi beuaty blogger pasti aku baca terus.  Aiiih …  anak muda masa kini banget nggak sih.., aku merasa nggak punya kemampuan menulis tentang kecantikan.

Ini 4 kritik dan saran darinya  :

1. Jangan cerita  dan pasang foto aku, nanti kalau  teman-temanku baca aku malu,

Untuk kritik dan saran pertama sudah bisa dikabulkan.  Memang di blog sangat jarang cerita tentang kehidupan keluargaku sehari-hari. Sudah komitmen dengan komandan raun (papanya anak-anak) sejak awal untuk tak terlalu terbuka di dunia maya, tak terlalu banyak cerita kehidupan anak-anak, menyebut kegiatan dan nama sekolahnya, dan banyak hal lagi. Anak-anak hanya disebut dengan panggilannya saja, kakak dan adek. Terbukti kan setelah remaja mereka memang tak mau dijadikan sumber cerita.

2. Jangan cerita pohon melulu,

Wk..wk.., bagaimana ya dek, setiap jenis tanaman itu unik sih dan punya karakter dan ciri khas masing-masing. Dengan  melihat tanaman pikiran terasa jadi jernih, perasaan  hati jadi nyaman dan mata pun segar.   Jenis tanaman yang baru pertama kali dilihat bisa bikin penasaran, lalu cari info sampai dapat dan menuliskannya di blog agar tak lupa. Lagi pula keanekaragaman hayati Indonesia itu kaya sekali, sayang jika tak dikenal lalu sedikit demi sedikit menghilang. Ketertarikan pada dunia flora karena sejak jaman sekolah dulu aku suka sekali dengan  pelajaran Biologi atau nama lamanya ilmu hayat. Aku suka mendengar nama ilimiah tanaman yang terasa merdu di telinga lalu mencari cara bagaimana agar bisa dengan mudah menghafal nama-nama asing itu.

3. Jawab komentar yang kreatif dong,

Ah..ini rada sulit sih sebetulnya.  Katanya aku menjawab komentar kok biasa banget. Apakah itu artinya aku  harus belajar menjawab kreatif pada bundo Adel?  Ada betulnya juga sih pendapat si adek  itu. Komentar yang baik  kreatif dan lucu  bisa memancing pengunjung datang berkali-kali lalu  berkembang jadi percakapan di blog. Ini cocok untuk blog wordpress yang memfasilitasi komentar bertingkat.  Komentar bertingkat selain mengakrabkan juga menaikka trafik wk.. wk..

4. Font diganti dengan yang lebih bagus.

Ini agak lebih gampang dikerjakan, (hah…gampang.. apa nggak salah?). Rasanya untuk urusan font dan tata letak tampilan blog perlu ubek-ubek tutorial, tanya dan minta bantuan pada para master. Apalagi ini sudah dipasangkan theme baru oleh kang Yayat, pelan-pelan akan  memaksimalkan semua fungsinya. Tapi, lain halnya kalau sudah mentok, daripada penampilan blog ini jadi semakin amburadul lebih baik konsultasi dengan yang jauh lebih ahli ya .

Rumah Pengasingan Bung Karno di Bengkulu
Rumah Pengasingan Bung Karno di Bengkulu (Sumber : Kisahku)

Lalu peran komandan raun bagaimana?  Dia mendukung banget kegiatan ini, dia yakin  menulis blog ini kegiatan yang  sangat positif.

1.Dia mau saja dimintakan bantuannya untuk memotret.

Bantuan untuk memotret selalu dilakukannya dengan ringan hati. Misalnya memotret Rumah Pengasingan Bung Karno yang cantik  di Bengkulu. Aku dulu bekerja di Bengkulu dan pernah mendatangi obyek-obyek bersejarah di sana. Sayangnya foto-foto rumah itu dulu  masih pakai film negatif, dan sudah tak ada lagi. Mumpung dia ada pekerjaan ke Bengkulu kutitip pesan agar mendatangi beberapa obyek sejarah sesempatnya di sela waktu dinasnya dan buat foto-foto selengkap mungkin saja he.. he.. dan aku yang menuliskan ceritanya. Oleh-oleh mah nggak terlalu penting dibandingkan dengan foto-foto.

Kali lain, aku minta buatkan foto mi tek-tek Polda Lampung. Waktu pertama kali makan di sana aku nggak ingat mau foto-foto he..he.., langsung santap saja. Setelahnya  baru ingat.

2. Komandan raun sering kasih ide dan info tulisan.

Antara lain belum lama ini dia kasih info tentang buah kepel di Panjang Jiwo Resort Sentul  dan buah buni di halaman rumah sakit Mitra Keluarga Kemayoran. Aku yang gampang penasaran jika dengar ada pohon langka lalu mengajaknya  mendatangi lokasi. Kali lain dia yang menunjukkan ada pohon bisbul di Ecology Park alias Danau Dora di Cibinong.

3. Bersedia mengantar  ke situs cagar budaya.

Awalnya komandan raun tak terlalu suka dengan sejarah. Tetapi dia mau saja kuajak ke lokasi situs cagar budaya yang letaknya di pelosok dan  belum jelas di mana dan akibatnya sering bikin kesasar.  Misalnya ini terjadi saat jalan-jalan ke situs megalitik Pugung Raharjo di Lampung Timur  dan desa wisata Cibuntu yang letaknya masih harus tanya kepada banyak orang setempat.  Dia sudah tahu istrinya ini maniak situs cagar budaya dan gampang penasaran. Eh lama kelamaan dia juga ikut tertular suka wisata sejarah dan selalu kasih info jika di media melihat liputan situs cagar budaya.

4. Dia mengijinkanku datang ke pertemuan dan kopdar blogger bahkan bisa akrab dengan temanku.

5. Dan yang  juga sangat  penting,  dia kasih aku ijin pakai kartu kreditnya buat bayar domain he..he…

Alhamdulillah, keluarga cincai deh.. dengan kegitan ngeblog ini,  sisanya terpulang pada diriku. Untuk terus lanjut mengisi saat-saat luang dengan ngeblog sepenuhnya keputusan itu ada di tanganku.

48 COMMENTS

  1. Poin terakhir dari suami memang penting ya, mbak monda: dimodalin. 😀
    Tapi poin 1 dari anak2 sangat aku pertimbangkan nih, mengingat skrg anakku masi balita jd belum protes. Spertinya memang hrs bnr2 dbatasi ya.

    • beberapa teman blogger juga mulai membatasi akses cerita ke anak2, ada yg bikin privat atau tak sebut namanya

  2. Hihihi, seruuu baca postingannya Mbak Monda yang ini. Jadi kebayang deh waktu nanyainnya. 😛
    Kalo butuh bantuan teknis let me know Mbak Monda. Hihihi 😀

  3. adek: “mama bales komen kayak bundo Adel…? o, tidaakkk..!!!” 😛 😛 😛

    xixixi, cirikhas mama kan memang udah begitu dek, klo komen datar, jawab komen datar, padahal aslinya kocak juga.

  4. anak-anak sudah besar ya bun skr kita harus jaga privacy mereka. Aku skr harus bilang kalau mau foto untuk kepentingan lomba misalnya

  5. Peran pak komandan mirip dengan suami saya Kak Monda. Kecuali no 5 karena kami gak punya kartu kredit.

    Bagus juga minta kritik dari anak-anak 🙂
    Anak2 tahu kalo sesekali saya nulis ttg mereka dan mereka belum protes. Yang sulung usianya remaja, sudah temenan di FB sama saya, jadi dia tahu apa saja yang saya posting. Utk foto, saya jaraaaaang sekali posting foto anak2. Kalo ada, biasanya gak begitu jelas. Saya juga sama seperti kak Monda, tidak mau menyebut dengan jelas nama dan alamat sekolah anak2 saya.

    Oya, baru tahu blognya sekarang sudah dot com. Makin semangat dong, ngeblognya, kak 🙂

    • rupanya kita punya sikap yang sama ya….
      anak2 kalau protes suka heboh sih..

      blgo yang ini udah cuku lama juga kak, udah 4 tahun

  6. Makin anak gede memang harus semakin hati-hati cerita tentang mereka ya mbak. Cerita tentang anak2 juga udah lumayan banyak yang aku batasi dan dikunci pake password. Nama sekolah dan kegiatan2 yang sifatnya privat juga gak pernah tayang di blog. Untuk si abang karena udah gede, jadi kalo mo cerita kudu minta ijin dulu dari dia. Foto yang mo ditampilin juga musti minta ijin dari dia. Memang jadi lebih repot sih, tapi seenggaknya lebih aman dan supaya sampe kapanpun dia gak protes dengan kegiatan ngeblog mamanya 😀

    • eh…abang udah bisa kasih pendapat ya…
      iya lebih baik dengan persetujuan anak daripada nanti pada ngambek..

  7. Halo, Kak. Tamu lama datang kembali, hehehe…
    Wah, asyik sekali ya keluarganya bisa dukung kegiatan ngeblog. Terlebih suami, poin 5 paling penting demi keberlangsungan blog. Hahaha…

    Salam kenal lagi. 🙂

  8. hehe yang tentang pohon dan menjawab komentar, saya banget mbak. Suka sekali, Papa Abang, kakak dan adek pendukung setia mama ngeblog. Salam hangat

  9. Hai Mba Monda…
    waah seru yaa bloggingnya di support semua anggota keluarga.
    bisa makin betah aku mah klo digituin..
    klo bloggingku malah sekarang suka ceritain anak2 dan mrk so fah hepi..mungkin krn masih kecil yaa.
    tp sebisa mungkin sih membatasi juga yaa gak smp ke ranah private

  10. senang yach kalau keluarga mendukung. kakak, bundo Adel itu aku kah, hiksss GR nga ketulungan. Makasih yach Dek, (ya ampun belum apa2 aku sudah sumringah sendiri) hehehe..

  11. Saya juga udah mengurangi pajang foto anak, di protes melulu. Harus ada ijin dari sumber berita, heheh.
    Suami saya sampai saat ini asik2 aja, ngedukung banget. Yang ngurusin & bayarin domain juga dia. Yang nganter2 kemana2 kalo kopdar juga dia 😀

  12. Belajar banyak nih dari tulisan Mbak Monda yang ini, terutama yang privacy. Kalau blog kami ini memang suami yang bikin. Awalnya karena nulis berdua. Tapi belakangan dia jadi malas nulis. Katanya segmen dia beda sama segmenku haha. Dia nulis diblognya sendiri akhirnya. Tapi tetap domain yg bayar dia. Dan tetap blog ini milik kami berdua.

    • pantesan Den, sekarang blognya diisi Dirimu terus ya…., aku lebih leluasa mau komen kalau Denny yang nulis dibanding mas Ewald…, apalagi nggak ngerti bahasanya he..he..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.