Berbukalah Dengan Kurma dan Mudik Lebaran

40
283

Tahun ini Lebaran kembali berkumpul di rumah mertua. Kami selalu  meninggalkan rumah di H-1. Pengalaman tahun-tahun sebelumnya di hari itu puncak arus mudik sudah selesai, para penyeberang antar pulau hanya tinggal pemudik yang menuju kota-kota di ujung selatan pulau Sumatera sehingga jumlah pemudik relatif sedikit. Tetapi,ternyata tahun ini berbeda. Kami harus mengantri 3 jam baru bisa masuk ke ferry,biasanya tanpa antri.Di dalam ferry pun penuh, sehingga kami punya pengalaman baru, istirahat  di ruang khusus lesehan berbaur dengan banyak penumpang lain, karena ruangan berkursi sudah penuh.   Untungnya ruangan ini  berAC,

antrian kendaraan yang hendak masuk ke dalam ferry penyeberangan di Merak, Banten

 

Menara Siger penyambut pemudik setibanya di pelabuhan Bakauheni, Lampung

Pulang ke rumah keluarga suami mungkin tak bisa disebut mudik yang konotasinya pulang ke kampung halaman, karena letaknya di ibukota propinsi he..he…. Ada yang membedakan lebaran di sini dengan di Jakarta, yaitu rumah makan masih banyak yang buka, gampanglah mencari makanan selingan bila sudah bosan dengan makanan bersantan di rumah.

Kami sekeluarga tak lama di kota ini, karena hari ketiga Lebaran sudah harus masuk kerja lagi ….., kami tidak mendapat  jatah cuti bersama.

Ada yang lucu saat menyiapkan mobil untuk perjalanan pulang.  Di kursi tengah kutemukan ada plastik flip kecil berisi dua buah kurma. Kurma itu adalah makanan pembuka di acara buka bersamadi sekolah bungsu seminggu yang lalu. Berarti sudah semingu pula kurma itu ada di dalam mobil. Langsung meledak tawaku dan si papa.

Apa pasal?

Teringat peristiwa berbuka puasa di dalam mobil yang terjebak macet. Biasanya  selalu ada makanan kecil pembuka puasa di tasku,entah kurma, coklat atau makanan kecil lainnya untuk dimakan bila harus berbuka di jalan. Kali itu aku lupa mengisi lagi persediaan kurma,yang tersisa hanya sebutir kurma. Kuserahkan pada si papa, dia mengembalikan padaku. Akhirnya karena kami berdua tidak ada yang mau memakan kurma yang hanya sebutir itu, kurma dibagi dua, masing-masing separuh ..he…he….., padahal rupanya masih ada dua butir kurma lagi terselip di kursi tengah.

SHARE
Previous articleFalsafah Hidup
Next articleMotivasi Untukku

40 COMMENTS

  1. Aiih romantisnya sebutir kurma dimakan berdua.
    Melihat menara Siger, rindu thd lampung langsung saja jd bangkit Mb Mon 🙂

    • xi..xi…dan aku belum menjelajah Lampung sejauh uni …
      kalau udah mudik ya tinngal di rumah terus sih..:D

  2. Malam lebaran saya jaga di puskesmas dan sholat ied di masjid dekat puskesmas 🙂
    Untungnya pas hari pertama dan kedua lebaran jadwal saya libur.
    Sebiji kurma untuk berdua, indahnya berbagi 🙂

  3. ‘Mudik’ eh Ngota nya ke Lampung ya mbak… pasti berkesan ya meskipun hanya sebentar… berbagi kurma, berbagi bahagia ya mbak… 🙂

  4. mudik lewat penyeberangan dan jalan darat ya bu. tahun ini sih kayaknya di merak relatif lancar ya. kalau ga salah tahun lalu ribet. saya belum pernah nyeberang lewat merak…. wkwkwkw…

    itu paragraf terakhir lucu banget bu. ibarat lagu dangdut itu disebut ‘memori daun pisang’.. tapi kali ini ‘memori sebutir korma’, atau ‘sebutir korma berdua’… 🙂

  5. kurma cuma satu, tapi bisa dimakan berdua. yang penting kebersamaannya ya kak. 🙂 dan kalau orang yang masih pacaran, kaya gini dianggap romantis heehe

  6. Indahnya berbagi dengan orang-orang terkasih.
    Jangan-jangan ini siasatnya mb monda saja, biar seru……!!!
    Padahal sudah tau ada kurma yang lain lagi he3… 🙂

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.