Batik Pertamaku di Museum Tekstil

40
116
Museum Tekstil Jakarta

Museum Tekstil Jakarta

Tanggal 1 Desember itu ditetapkan sebagai Hari HIV/AIDS sedunia. Di wilayah kerja kami ada acara dari karang taruna yang buat peringatan. Mereka buat acara ngeband dan ada penyuluhan kesehatannya. Ibu bos yang  membawakan acara penyuluhan di situ, dan aku juga hadir menemani. Setelah acara selesai mumpung masih pagi  rasanya ingin sekalian  mampir  lihat pameran di Museum Tekstil. Jadilah kendaraan kubelokkan ke sana. Kebetulan sekali hari Minggu itu ada pameran kain batik koleksi keluarga keraton Mangkunegaran.

Masuk ke ruang utama museum tercium aroma wangi, wangi daun pandan, dan melati.  Di beberapa sudut  ruang pameran diletakkan bokor berisi irisan daun pandan,   melati dan mawar. Wangi yang kurasa sangat membius, membuat betah berada di dalam museum.

Kain batik yang dipamerkan di Museum Tekstil itu sangat khas batik  Solo, berwarna sogan (coklat) dengan motif  tradisional.  Semua kain yang dipamerkan itu milik perorangan anggota keluarga keraton Mangkunegaran. Di antaranya  ada kain batik dan kebaya milik almarhumah Ibu Tien Soeharto. Beliau ini adalah  salah satu anggota kerabat Mangkunegaran.

Ketika aku sedang asyik mengamati motif Parang Naga Basuki, datang seorang ibu setengah baya  cantik dan anggun. Ternyata ibu ini adalah sepupu dari Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Mangkunegara IX, raja Mangkunegara saat ini.

Ibu cantik menjelaskan motif parang  yang memang sangat unik, jarang terlihat di luar. Motif parang itu berupa lereng  dengan arah diagonal tetapi berisi hiasan naga yang memakai mahkota di antara barisan lereng. Motif parang ini salah satu motif tua. Parang berasal dari kata pereng atau lereng berbentuk garis diagonal.  Pada motif ini susunan motifnya mirip huruf S yang saling terkait. Ini artinya melambangkan kesinambungan, menggambarkan semangat yang pantang surut. Motif parang tercipta di istana. Dahulu motif parang hanya boleh dipakai raja dan keluarganya.

Motif Parang Naga Basuki
Motif Parang Naga Basuki

Memang saat itu banyak dipamerkan kain motif parang dengan berbagai variasi. Salah satu di antaranya  yaitu motif Parang Kusumo yang biasa dipakai sehari-hari di dalam lingkungan keraton.

Motif Parang Kusumo berarti paduan lereng dan kembang. Dahulu motif ini dipakai di kraton. Kini motif parang kusumo digunakan pada saat tukar cincin.

Motif Parang Kusumo (belakang)
Motif Parang Kusumo, yang dipakai di dalam keraton Mangkunegara (belakang)

Belajar membatik di Museum Tekstil

Keluar dari ruang pamer utama kulangkahkan kaki ke bagian belakang kompleks museum. Di sana ada ruang belajar membatik.  Untuk belajar membatik pengunjung membayar Rp 40,000,- dan akan mendapat sehelai kain seukuran sapu tangan. Kemudian  bisa pilih  motif yang disukai, aku pilih motif gunungan yang simpel. Motif kemudian dijiplak di atas meja berlampu. Langkah selanjutnya adalah memasang kain dalam ram dan mulai melapisi gambar dengan lilin.

Oh ya masing-masing orang diberi tungku dengan wajan kecil berisi lilin cair. Ada pilihan canting, dengan berbagai ukuran lubang keluar lilin. Lilin diciduk dengan canting, tiup pelan agar lilin yang keluar tak berlebihan. Gampang-gampang susah melakukannya, he..he..tetesan lilinnya belepotan, sebagian bisa sih dilepaskan. Yang dilapisi itu kedua permukaan kain, muka belakang.

 

Berikutnya kain diserahkan ke petugas museum. Si bapak ini melapisi bagian pinggir kain dengan lilin putih menggunakan kuas.  Kemudian kain dicelupkan ke dalam larutan naftol untuk mengikat warna, lalu ke larutan pewarna. Terakhir dimasukkan ke dalam air mendidih untuk melarutkan lilin.

Batik karyaku

Dan inilah karyaku yang berwarna coklat sedang  dikeringkan di jemuran. Di sebelahnya karya seorang lady expatriat dari Eropa. Pengalaman pertama membatik ini sangat berkesan, ingin rasanya kembali dan belajar lagi agar hasilnya lebih rapi.

Tertatik datang dan belajar membatik? Kunjungi  saja Museum Tekstil ya. Alamatnya di jalan KS Tubun Jakarta Pusat. Banyak angkutan umum yang melewati persis di depannya. Dari perempatan Palmerah, bisa naik mikrolet yang menuju pasar Tanah Abang. Kalau naik commuter line, turun di stasiun Tanah Abang, lalu berjalan sedikit ke arah jembatan.

40 COMMENTS

  1. aku mau membatik lagi… karena waktu ke sana (dan tempat lain) mesti anak-anak yang mendominasi jadi lain kali aku sendiri mau santai dan konsentrasi membatik.
    Hasilnya bagus mbak

    • trims mbak..
      kalau nggak salah Riku pernah buat sapu tangan batik biru ya…
      iya enaknya emang ke sini sendiri aja, biar konsen he..he.., sekali2 lepas dari anak2 (anak2ku juga nggak betah pengen cepat2 pulang)
      pengen jugalah cari2 waktu dari pagi mulai dari museum buka sampai tutup lagi he..he..

  2. Asik ya mbak bisa belajar membatik.

    Penasaran deh dengan membatik ini, baru kemarin di Yogya sempat melewati rumah yang ternyata pengrajin Batik. Belok sebentar cuma buat motret aja.

    • ayuuk bu…kalau ke Jakarta mampir ke Museum Tekstil, pasti ibu betah deh seharian di sini, cocok banget buat bu Dey yang senang kerajinan tangan

  3. Kain batik dari kraton pasti bagus2 ya jeng, batik tulis
    Hebatnya orang jaman dulu, menggambar dengan tangan, motifnya ada yang sederhana dan ada yang luar biasa,lalu membatiknya.
    Kini menggambarnya mungkin bisa dengan komputer sehingga lebih bervariasi motifnya.
    Dulu di kampung saya juga ada yang membatik, tapi sudah meninggal dunia dan tak ada yang meneruskannya.

    Terima kasih reportasenya

    Salam hangat dari Surabaya

    • iya pak de..motif kuno keraton kelihatan di sini,..
      asyiknya bisa belajar bahwa ada jenis2 motif yang pemakaiannya khusus nggak bisa asal pakai

      iya batik juga udah bisa digambar dengan komputer.., ada yang namanya batik fraktal.., tetap kelihatan indahnya batik

    • iya Dan.., anggun ya..
      diteliti dekat2 kelihatan deh rapi sekali buatannya,nggak ada belepotannya kayak buatanku he…he…

  4. sebagai warga solo yang juga dikenal sebagai salah satu dari kota batik, saya malah sampai saat ini tak punya satu pun kemeja batik, hehehehe

  5. Jaman kecil saya dulu paling senang membatik motif sido mukti. Tidak banyak variasinya, jadi bisa cepat selesai dan bisa cepat dapat bayaran

    • waaah mengesankan..pengalaman tak terlupakan ya mbak..,
      tapi sidomukti itu anggun lho biarpun kelihatannya nggak variasinya

  6. Wah asyik mbak, bisa mencoba membatik, proses pewarnaan sampe jadi hasilnya.
    saya pernah nyoba mbak, tapi membatik dengan media topeng. Ngliat jg proses pewarnaan sampe jadi hasilnya.
    kalo membatik di kain, udah nyoba, sayangnya ga sampe finish.

  7. Duta Museum Tekstil padahal adik kelasku… tapi aku belum pernah ke sana >,< Awalnya kukira Museum Tekstil tuh yang deket Fatahillah itu 😀 😀

  8. Bagus hasilnya, Mbak. Kalau Nai udah pernah beberapa kali ngebatik. Saya malah belum sekalipun. Tapi ngelihat Nai ngebatik juga memang kelihatan gak mudah. Pantesan aja harga batik tulis itu mahal, ya

    • iya pasti susah buat batik yang biasanya motifnya njelimet dan warna warni
      bisa habis waktu berminggu2 mungkin buatnya
      waduh Nai udah pinter ngebatik, belajar di mana? di museum Tekstil juga?

  9. Ternyata bu Monda memang pecinta batik. Itu hasilnya bagus banget.
    Di Solo yang paling lengkap museum batik Danar Hadi. Kelihatannya hampir semua motif batik klasik ada deh. Ada pabrik batik tradisional juga yang bisa dilihat dari mulai nulis atau cap sampe packing.
    Kalo ke Solo wajib dikunjungi museum ini bagi pecinta batik kayak bu Monda.

    • mbak, itu sengaja kasih foto yang digantung aja, biar nggak keliatan jelas belepotannya
      tentu Museum Danar Hadi sudah masuk list, semoga bisa sampai ke sana
      juga ke Laweyan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here